Selamat datang!! Silakan Anda mengutip semua artikel yang ada di kami tapi Anda harus menyertakan saya sebagai penulisnya

Rabu, 09 Maret 2016

Ketukan Hati dari Penerus Kita


Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan (Q.S. 19:59)

Ayat di atas adalah gambaran generasi kita sekarang dan di masa yang akan datang. Generasi yang jauh dari Allah SWT. Rentan penyimpangan dan kerusakan serta gemar menuruti nafsu syahwat. Berbagai persoalan bisa dijadikan parameter sehingga menjadi generasi yang demikian. Namun, untuk artikel berikut penulis hanya berfokus pada aspek pendidikan yang merupakan pilar utama pembentuk generasi penerus.
Sebagaimana diketahui dan kini ramai jadi pembicaraan adalah kepanikan lembaga pendidikan  dan pusingnya mereka menghadapi kondisi seperti serkarang ini. Karena banyak sekali masyarakat yang menuding bahwa yang bertanggung jawab atas kerusakan generasi kita hanya pendidik (guru)/lembaga pendidikan yang salah menerapkan kurikulum dan hilangnya aspek keikhlasan dalam mengelola dunia pendidikan.
Pemerintah berupaya begitu keras agar pendidikan berhasil mengeluarkan produk yang unggul dan berakhlak mulia. Kurikulumpun diubah, materi ada yang dihapus dan ada yang ditambah. Trilyunan rupiah dianggarkan demi terwujudnya sebuah harapan generasi idaman bangsa dan agama. Pakar pendidikan berteriak pendidikan berkarakter. Tak ayal kurikulum pendidikan berbasis karakterpun digagas. Namun entah kenapa yang terjadi pada generasi kita, kemerosotan akhlak semakin tajam bahkan sudah di atas ambang batas. Naudzubillah...
Bahkan kalau kita melihat berita di surat kabar, menurut hasil survey KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) didapatkan bahwa 62,7% remaja pernah melakukan zina, 21% diantaranya telah melakukan aborsi. Innalillah...
Dari data di atas kita sebagai orangtua jangan menganggap bahwa kerusakan moral remaja seperti itu dianggap sebagai penghalalan bahkan pembenaran tren zaman. Sebagai orangtua kita harus khawatir dan cepat mengambil langkah antisipatif sebelum lebih jauh merembet dan merusak mentalitas moral dan spiritual putra-putri kita.

Pendidikan Akhlak Suatu Keniscayaan
Manusia tanpa akhlak yang mulia tentu tak ada bedanya dengan binatang. Tak punya etika, tak punya tata aturan sehingga hawa nafsu yang diperturutkan.
Menilik tugas Rasul SAW sebagaimana sabda beliau yang berbunyi: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”  maka beliau adalah prototipe pertama bagi kalangan pendidikan dalam menjalankan tugasnya dalam mentransfer nilai-nilai pengetahuan dan spritual bagi anak didik.
Nyatanya kini di Indonesia khususnya dan dunia umumnya nilai-nilai spiritual dianggap materi yang terpisah dengan pengetahuan keduniaan. Berbanding terbalik dengan sejarah Islam pada masa kejayaannya dulu yang tidak ada upaya sekularisasi antara ilmu agama dan ilmu umum.
Akibatnya tidak usah heran jika yang melakukan tindak korupsi justru mereka-mereka yang berpendidikan tinggi, kecerdasannya di atas rata-rata. Karena pendidikan yang ditempuh selama ini hanya sebagai media transfer pengetahuan, miskin akhlak, nihil etika.
Dari segi inilah kita mesti memberikan respek pada upaya pemerintah dan tokoh-tokoh pendidikan yang concern dengan masa depan generasi bangsa untuk memadukan semua materi dengan pendidikan karakter. Tentu hasil itu tidak serta merta menjadi tampak sekarang. Butuh waktu sekian tahun untuk memetik hasilnya.
Jika sekarang putra-putri kita begitu memprihatinkan dalam menjaga nilai-nilai akhlak yang mulia, tidak usah pesimis yang ditampakkan karena upaya itu masih berjalan. Senyampang upaya itu masih terus berproses alangkah lebih baiknya kita-kita yang lebih dulu memberikan tauladan. Bukankah pembelajaran lewat tauladan lebih efektif dari hanya sekedar kata-kata?

Ketika Orangtua Sangsi dengan Pendidikan Berbasis Agama
Menanamkan akidah dan akhlak pada anak dalam bi’ah (lingkungan) yang sehat dan kondusif adalah satu-satunya langkah yang musti dilakukan untuk mengantisipasi lahirnya generasi buruk sebagaimana yang disampaikan Allah SWT dalam ayat di atas. Sungguh, terbentuknya jiwa dan karakter seseorang sangat ditentukan oleh kondisi bi’ah sekitarnya. Seorang anak yang dididik dalam bi’ah yang sehat akan membentuk pribadi yang positif atau sebaliknya. Bi’ah yang memungkinkan membentuk jiwa yang rabbani, salah satunya adalah pendidikan/sekolah berbasis agama.
Bisa kita bayangkan perbedaannya, ketika anak-anak kita yang sedang semangat-semangatnya mengaji, mendalami ilmu agama Islam atau lagi asyik-asyiknya mengikuti kegiatan spiritual untuk generasi idaman. Tapi disaat yang sama teman-teman sebayanya sedang asyik menghabiskan rupiah orangtuanya untuk paketan game online (Playstation), nongkrong di warnet tanpa pengawasan, berpacaran yang tidak sehat atau yang berbau kemaksiatan. Tentu yang sejuk dipandang mata dan menetramkan hati adalah kejadian yang pertama.
Nyatanya masih banyak diantara kita yang secara tidak sadar telah menjerumuskan putra-putri kita ke jurang kehancuran dengan hanya berkata-kata tanpa pernah memberi tauladan yang berharga. Padahal tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya menjadi beban pada saat pertanggungjawaban di akhirat kelak. Semua orangtua pasti menginginkan anaknya menjadi syafaat bagi dirinya.
Sangat disayangkan jika sebagian orangtua ada yang sangsi bahkan trauma jika anaknya disuruh mengaji/mendalami ilmu agama. Mereka beranggapan kalau anaknya sehabis sekolah masih harus belajar agama/ngaji lagi, maka nilai sekolahnya akan jatuh. Mereka berdalih bahwa meskipun mereka mengaji belum tentu berhati dan berakhlak baik.
Tentu, sangatlah tidak arif jika kita mencap bahwa gara-gara belajar ilmu agama anak-anak tidak bisa sukses dalam hal dunianya.
Mesti dipahami oleh setiap muslim khususnya orangtua bahwa tujuan pendidikan yang diusung Al-Qur’an adalah bagaimana membimbing manusia agar mempunyai ilmu, yakni ilmu yang membuat manusia takut pada Allah SWT, sebagaimana yang tertuang pada ayat berikut:
Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Q.S. Fathir, 35:28)

Tugas Kita Sebagai Orangtua
Kepada orangtua, marilah kita merenung dan berpikir sejenak. Lihatlah generasi muda yang akan meneruskan estafet kepemimpinan negeri ini, bagaimana jika meninggalkan salat dan mengikuti hawa nafsu itu menjadi sesuatu yang biasa dan dianggap wajar?
Rasulullah SAW. Bersabda: “Bahwa ikatan-ikatan Islam akan terburai satu demi satu. Setiap kali satu ikatan terburai, orang-orang bergantungan pada ikatan selanjutnya. Yang terakhir  kali terburai adalah salat (H.R. Ahmad)
Hadis di atas dengan gamblang menjelaskan bahwa putusnya tali Islam yang terakhir  adalah salat. Selama salat masih ditegakkan oleh umat Islam berarti masih ada tali dalam Islam. Sebalik kalau salat sudah tidak ditegakkan maka putuslah Islam secara keseluruhan karena salat adalah tali yang terakhir.
Maka tak mengherankan kalau Allah SWT. menyebut “adhous sholah” (menyia-nyiakan/meninggalkan sholat) dalam ayat tersebut diucapkan pada urutan yang lebih dulu dibandingkan “attaba’us syahawat” (menuruti syahwat), sekalipun tingkah menuruti syahwat itu sudah merupakan puncak kebejatan moral manusia.
Dengan demikian bisa kita pahami bahwa betapa tingginya kejelekan orang yang meninggalkan salat karena puncak kebejatan moral yaitu menuruti syahwatpun masih berada diurutan setelah meninggalkan salat. Tiada perkataan yang lebih benar daripada perkataan Allah SWT dan RasulNya.
Allah SWT. dan RasulNya sangat mengecam orang yang meninggalkan salat dan menuruti syahwat. Maka dari itu marilah kita jaga diri kita juga putra-putri dari kebiasaan yang jelas-jelas dikecam oleh Allah SWT. dan Rasulnya terebut.
Mudah-mudahan kita serta generasi penerus kita tidak termasuk mereka yang akan binasa akibat pelanggaran yang amat besar yaitu meninggalkan salat dan menuruti syahwat. Maka tidak perlu disanksikan lagi bahwa pendidikan agama kalau kita pahami dan kita dalami akan membawa kita ke jalan yang Insya Allah  diridhai Allah SWT dan menjadikan negeri Indonesia “Baldatun Toyyibatun Warobbun Ghofur”. Insya Allah. Amin Ya Robbal Alamin. Wallahu a’lam bishawwab.

*) Guru dan Pemimpin Redaksi
Majalah Sekolah “KAMUS”
MTs. MA. Al-Musthofa Canggu Jetis Mojokerto
Beralamat di: www.catatansangguru.blogspot.com

Setelah Sertifikasi, What’s Next?


Prolog
Hari Ahad, tanggal 15 Desember 2013 selesai sudah masa karantina saya sebagai salah satu peserta Pendidikan dan Latihan Pendidikan Guru (PLPG) yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) UIN Sunan Ampel.
Karena banyaknya janji-janji pemerintahlah sehingga kami semua semangat untuk mengikuti setiap materi yang disampaikan oleh dosen. Kepenatan yang saya rasakan serta suka-duka menghadapi tugas yang bejibun dalam tenggat waktu yang singkat tak menyurutkan semangat saya dan teman-teman untuk menyelesaikannya. Karena di pelupuk mata kami nampak sebuah lembar sertifikat dan kartu NRG yang menjadi syarat sah untuk mendapatkan tunjangan profesi. Ya, begitu pragmatisnya pemikiran kami sebab bagi guru seperti kami yang selalu berkutat utang apalagi yang kami kejar selain uang.
Kini, setelah beberapa bulan saya menyelesaikan PLPG tersebut disaat menanti turunnya SK pengesahan, rupa-rupanya tujuan pragmatis yang sempat mampir dalam benak saya adalah tujuan yang sebagian besar tersemat pada rekan-rekan seprofesi. Dengan melihat peristiwa-peristiwa sekitar dari rekan sesama guru yang sudah menerima tunjanganlah sehingga saya mengambil kesimpulan tersebut. Uraian berikut adalah pembuktian tesis saya.

Tujuan Pemerintah
Begitu mulianya tujuan pemerintah untuk memajukan kehidupan bangsa dengan meningkatkan kualitas pendidikan dari segi guru dan kesejahteraannya. Untuk meningkatkan kualitas guru dengan karakteristik yang dinilai kompeten maka salah satu caranya adalah dengan sertifikasi.
Peningkatan mutu guru lewat program sertifikasi ini sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan. Rasionalnya adalah apabila kompetensi guru bagus yang diikuti dengan kesejahteraan yang bagus, diharapkan kinerjanya juga bagus. Apabila kinerjanya juga bagus maka KBM-nya juga bagus. KBM yang bagus diharapkan dapat membuahkan pendidikan yang bermutu.
Maka dikeluarkanlah Undang-undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003 sebagai salah satu upaya untuk mengatur agar pendidikan di Indonesia semakin maju. Karena tidak mungkin pendidikan maju jika tenaga pendidiknya tidak maju maka pemerintah mengeluarkan Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen yang menyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dalam tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
Pernyataan ‘profesional’ mengindikasikan bahwa seorang guru harus benar-benar menjalankan tugas sebagaimana diamanatkan oleh undang-undang. Karena merupakan tuntutan tentu saja pemerintah tidak tinggal diam dengan tuntutannya ini maka keluarlah sebagian dari anggaran 20% APBN untuk memberikan imbal balik berupa tunjangan profesi.
Untuk mencapai ‘profesional’ ada banyak syarat yang memang harus dipenuhi guru. Tentu saja ini merupakan hal yang lumrah sebagaimana tujuan, jalan mencapai tujuan juga harus ditempuh. Jika syarat-syarat ini terpenuhi keluarlah bukti keprofesionalan berupa sertifikat pendidik sebagai syarat akhir seorang guru untuk mendapatkan tunjangan.
Jalan yang paling mudah menurut saya adalah jalur portofolio. Sebab dengan jalur ini seorang guru cukup mengumpulkan pengalaman-pengalaman selama menjadi guru dengan bukti fisiknya. Jika jumlah nilai minimal 850 dari portofolio terpenuhi, maka guru sudah berhak mendapatkan sertifikat pendidik dari LPTK penyelenggara sertifikasi guru.
Jalan agak sulit setelah guru tidak mampu memenuhi penilaian portofolio dia harus mengikuti PLPG selama 90 jam. Pelatihan yang diadakan selama seminggu ini, setiap peserta mengikuti jadwal pelatihan yang begitu ketat dengan menyelesaikan tugas dalam tempo yang singkat. Materi-materi yang disampaikan tentu saja semua hal yang berkaitan dengan dunia pendidikan yakni pedagogik, profesional, spiritual, dan sosial lebih-lebih lagi yang berkaitan dengan teknologi. Sebab sebagaimana sudah maklum teknologi dalam hal ini komputer merupakan hal yang wajib dikuasai oleh guru.
Jalan menyusahkan dan lebih rumit serta menghabiskan banyak waktu, biaya, dan tenaga adalah dengan jalur PPG (Program Profesi Guru). Bagaimana tidak, hanya demi selembar kertas yang bernama sertifikat seorang guru yang mengikuti PPG harus mengikuti perkuliahan selama 2 semester (1 tahun) dengan bobot antara 32 s.d. 40 sks. Bandingkan dengan jalur portofolio yang hanya bermodal kertas berharga, jalur PLPG yang bermodal tenaga dan ‘sedikit’ pikiran. Tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa guru hasil dari PPG memang benar-benar guru yang profesional. Mengapa demikian? Uraian berikut sedikit banyak akan menjawabnya.

Keprihatinan
Sebagaimana yang sudah saya ungkapkan di atas pelaksanaan program sertifikasi tujuan dasarnya adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Karena dengan meningkatnya kualitas pendidikan, maka akan dapat pula mendongkrak kualitas pendidikan bangsa Indonesia saat ini.
Kenyataannya program sertifikasi khususnya jalur portofolio justru memunculkan sosok guru yang Certificate-Oriented. Ternyata implementasi sertifikasi guru dalam bentuk penilaian portofolio ini kemudian menimbulkan polemik baru. Banyak para pengamat pendidikan yang menyangsikan keefektifan pelaksanaan sertifikasi dalam rangka meningkatkan kinerja guru. Bahkan ada yang berhipotesis bahwa sertifikasi dalam bentuk penilaian portofolio tak akan berdampak sama sekali terhadap peningkatan kinerja guru, apalagi dikaitkan dengan peningkatan mutu pendidikan nasional. Hal ini berkaitan dengan temuan-temuan dilapangan bahwa adanya indikasi kecurangan dalam melengkapi berkas portofolio oleh para guru peserta sertifikasi.
Tentu Anda masih ingat beberapa tahun yang lalu ketika portofolio mulai diadakan. Banyak bermunculan acara seminar, diklat, atau yang sejenisnya diadakan oleh berbagai lembaga yang merasa berkompeten menyelenggarakannya. Guru kreatif, guru teladan, dosen pendidikan bahkan hingga profesor laris manis mengisi acara. Padahal kenyataannya acara diselenggarakan asal-asalan sebab memang bukan ilmu yang menjadi tujuan melainkan sertifikat atau piagam bukti keikutsertaanlah yang diinginkan.
Cara seperti ini masih lumayan sebab memang acaranya benar-benar ada lebih memprihatinkan lagi, banyak sekali penawaran (penjualan) sertifikat dengan harga variatif tanpa pernah mereka mengikutinya. Sertifikat palsupun bertebaran.
Yang mengikuti PLPG-pun tidak ketinggalan. Memang, diklat ini benar-benar ada, justru pelaksanaannya yang perlu mendapat sorotan. Saya yang menjadi peserta PLPG merasakan benar betapa memang program pemerintah sulit sekali menuai keberhasilannya hanya karena oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Dosen-dosen yang tidak sejalan dengan kehendak pemerintah atas pemberlakuan kurikulum 2013 berani terang-terangan menentang di hadapan kami sebagai peserta. Ada dosen yang asal comot karena tidak menguasai materi gampang saja memberikan tugas pada kami tanpa pernah memberikan pengarahan yang sebenarnya. Mudah-mudahan hanya saya saja yang mengalami demikian.
Sedangkan para peserta lebih memprihatinkan lagi. Banyak yang berangkat tanpa orientasi yang jelas. Mengikuti pelatihan dengan ogah-ogahan, berusaha menghindari tugas yang dibebankan. Hampir sama dengan para murid, gembira sekali jika dosen hanya bercerita pengalaman hidupnya tanpa sama sekali memberikan tugas.

Solusi
Sertifikasi dengan jalur portofolio memang sangat diragukan keampuhannya untuk meningkatkan kompetensi guru. Maka, pemerintah harus mengadakan tindak lanjut agar program yang begitu mulia tidak menjadi program yang sia-sia. Sebab di sana-sini masih banyak guru yag telah lolos sertifikasi tapi sekedar menyalakan laptop saja tidak bisa. Membuat RPP masih mengandalkan download internet atau kadang membeli paket jadi yang tinggal mengganti nama saja (sekolah, kepala sekolah, dan guru bersangkutan).
Meningkatkan suguhan up grading bisa menjadi salah satu langkahnya. Up Grading yang saya maksud berupa peningkatan-peningkatan kualitas guru dipelbagai kompetensi. Up Grading ini dapat berupa Kegiatan-kegiatan training, penataran, workshop, dan apapun istilah lainnya. Cara ini dapat mengubah rahasia umum para guru, bahwa yang dapat menikmati suguhan Up Grading tersebut hanyalah segelintir dari mereka.
Yang telah lulus jalur PLPG-pun masih banyak kekurangan yang harus dibenahi. Jangan dikira setelah mengikuti PLPG habis perkara. Masih banyak kekurangan yang harus dibenahi. Sebab yang jamak terjadi di Indonesia, kegiatan semacam PLPG – bisa seminar, diklat, kursus – yang  diharapkan untuk bisa memacu kemajuan, menumbuhkan kreatifitas, mengembangkan inovasi mandeg pada pemenuhan kewajiban atau istilah lainnya hanya sebagai formalitas.
Saya sangat berharap setiap triwulan, atau persemester atau paling tidak setiap setahun sekali ada semacam ujian ulang dengan passing grade tiap tahun ditingkatkan. Sehingga guru sertifikasi tetap terpacu untuk meningkatkan kemampuannya.


Epilog
Sebelum saya akhiri tulisan ini, maaf jika ada kesalahan dalam bertutur, bukan bermaksud meng"generalisasi". Saya hanya berharap adanya sertifikasi tidak serta merta mengurangi keikhlasan para guru untuk menularkan ilmunya. Sebab, saya yakin masih banyak guru yang memang benar-benar ikhlas mengajar walau tanpa disertifikasi, dan masih banyak guru yang walaupun sudah tua namun masih bersemangat untuk belajar memperbaiki kekurangan diri demi kemajuan sekolahnya.
Sertifikasi bukan segalanya, sebab kemajuan pendidikan di Indonesia begitu komplek permasalahannya. Hanya, saya mengajak kepada semua rekan guru untuk selalu instropeksi. Sejauhmana telah melaksanakan tugas kependidikan. Seberapa banyak kekurangan yang belum tertutupi dan tidak pernah lelah untuk meningkatkan kemampuan agar bisa mengikuti perkembangan zaman. Jangan sampai status guru sertifikasi disandang tetapi sering tidak mampu kebutuhan peserta didik. Semoga, para guru benar-benar menjadi Pahlawan tanpa tanda jasa.
Barangsiapa mau menjadi guru,
biarkan dia memulai mengajar dirinya sendiri 
sebelum mengajar orang lain,
dan biarkan dia mengajar dengan teladan,
    sebelum mengajar dengan kata-kata....
” (Chairil Anwar)

*) Pengajar di MTs. MA. Al-Musthofa Canggu
Jetis Mojokerto
Alumni PLPG angkatan 33
Mempunyai alamat di

www.catatansangguru.blogspot.com

Selasa, 28 Juli 2015

Pakar NASA ini masuk Islam pasca sembunyikan fakta Lailatul Qadar



Ramadhan sudah berlalu, idul fitri-pun sudah 2 minggu berlalu, tapi aku masih menyesali betapa sedikitnya ibadah yang aku lakukan selama Ramadhan kemarin. Akhirnya Ramadhan berlalu tapi aku tidak mendapatkan Lailatul Qodar. Semakin menyesal ketika aku membuka sebuah situs menjelaskan Lailatul Qodar berikut:

BANDUNG (Arrahmah.com) – Subanallah ternyata banyak yang disembunyikan oleh orang-orang barat tentang kehebatan Islam yang ditunjukan dalam bentuk kejadian alam di dunia ini.

Kepala Lembaga Mukjizat Ilmiah Al-Quran dan Sunnah di Mesir, Dr. Abdul Basith As-Sayyid menegaskan bahwa, Badan Nasional Antariksa Amerika (NASA) telah menyembunyikan kepada dunia bukti empiris ilmiah tentang (malam) Lailatul Qadar. Demikian dilansir BIP, Ahad (5/7/2015).

Ia menyayangkan kelompok jutawan Arab yang kurang perhatian dengan masalah ini sehingga dunia tidak mengetahuinya. Menurutnya, sesuai dengan hadits Nabi bahwa malam Lailatul Qadar adalah “baljah” (بَلْجَة); tingkat suhunya sedang), tidak ada bintang atau meteor jatuh ke (atmosfer) bumi, dan pagi harinya matahari keluar dengan tanpa radiasi cahaya.”

Sayyid menegaskan, terbukti secara ilmiah bahwa setiap hari (hari-hari biasa) ada 10 bintang dan 20 ribu meteor yang jatuh ke atmosfer bumi, kecuali Lailatul Qadr dimana tidak ada radiasi cahaya sekalipun.

Hal ini sudah pernah ditemukan Badan Antariksa NASA 10 tahun lalu. Namun mereka enggan mempublikasikannya dengan alasan agar non Muslim tidak tertarik masuk Islam.

Statemen ini mengutip ucapan seorang pakar di NASA bernama Carner, seperti yang dikutip oleh harian Al-Wafd Mesir.

Hal tersebut dikemukakan Abdul Basith Sayyid, Kepala Lembaga Mukjizat Ilmiah Al-Quran dan Sunnah di Mesir, serta Dr. Abdul Basith As-Sayyid juga mendukung hal tersebut dalam sebuah program di TV Mesir.

Sayyid juga menegaskan, pakar Carner akhirnya masuk Islam dan harus kehilangan jabatannya di NASA.

Ini bukan pertama kalinya, NASA mendapatkan kritikan dari pakar Islam. Pakar geologi Islam Zaglol Najjar pernah menegaskan, NASA pernah menghilangkan satu halaman di situs resminya yang pernah dipublikasikan selama 21 hari. Halaman itu berisi hasil ilmiah tentang cahaya aneh yang tidak terbatas dari Ka’bah di Baitullah ke Baitul Makmur di langit.

Sayyid menegaskan, “jendela” yang berada di langit itu mirip yang disebutkan dalam Al-Quran.

وَلَوْ فَتْحنَا عَلَيْهِمْ بَابًا مِنْ السَّمَاء فَظَلُّوا فِيهِ يَعْرُجُونَ لَقَالُوا إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارنَا بَلْ نَحْنُ قَوْم مَسْحُورُونَ

“Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya. tentulah mereka berkata: “Se sungguhnya panda ngan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang orang yang kena sihir”.” (Al-Hijr: 14)

Saat itu Carner menyaksikan dengan bukti jelas bahwa jagat raya saat itu gelap setelah “jendela” itu tersibak. Karenanya, setelah itu Carner mendeklarasikan keislamannya.


Sunnah mencium Hajar Aswad

Setelah Carner masuk Islam, ia menafsirkan fenomena “mencium Hajar Aswad” atau mengisyaratkan kepadanya – seperti penjelasan Abdul Basith Sayyid – bahwa batu itu merekam semua orang mengisyaratkan kepadanya (dengan lambaian tangan) atau menciumnya. Carner juga mengungkapkan tentang sebagian potongan Hajar Aswad yang pernah dicuri. Setelah 12 tahun diteliti, seorang pakar museum Inggris menegaskan bahwa batu tersebut memang bukan dari planet tata surya Matahari.

Carner, pakar Inggris itu kemudian melihat sample Hajar Aswad sebesar biji (kacang) hims. Ia menemukan bahwa batu itu melancarkan gelombang pendek sebanyak 20 radiasi yang tidak terlihat ke segala arah. Setiap radiasi menembus 10 ribu kaki. Carner menambahkan, batu itu mampu mencatat nama-nama orang yang berhaji dengan radiasi gelombangnya. Sebagaimana, tegas Sayyid Abdul Basith, Imam Syafi’i menyatakan bahwa Hajar Aswad mencatat nama setiap orang yang mengunjunginya baik dalam haji atau umroh sekali saja. (adibahasan/arrahmah.com)

Kamis, 08 Januari 2015

Bisnis Ayo Kita Bisnis

Mencari penghidupan sudah menjadi kewajiban apalagi bagi manusia yang sudah berkeluarga. Berbagai macam usaha harus kita lakukan agar dapur tetap mengepul. Berbagai keahlian harus kita pelajari agar kita menjadi pekerja yang terlatih dan tidak hanya menggantungkan diri sebagai buruh kasar.
Nabi Muhammad SAW sangat suka kepada umatnya yang mau berusaha apapun bentuknya asalkan halal maka beliau memberikan respek kepada para Shahabatnya. Makanya saya bahagia sekali ketika didatangi oleh salah saudara sepupu yang akan membuka warung bakso dan saya disuruh untuk membuat bannernya.
Bahagia rasanya bisa membantu dia. Maka saya buat 2 buah banner yang dipakai untuk promosi bakso di warungnya da hasilnya dalah sebagai berikut:




Rabu, 31 Desember 2014

Alasan Nabi Muhammad Menjadi Nabi Terakhir

[Quran Surah 21:107] Dan tiadalah Kami mengutus kamu, (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Allah Tuhan semua manusia, yang mengirimkan banyak utusan pada masing-masing kaum dan mengirimkan 1 utusan untuk semua kaum. Bahwa sebelum kelahiran nabi Muhammad hampir tidak ada 1 utusan untuk semua manusia. Nabi Muhammad-lah satu-satunya utusan untuk semua bangsa. Mungkin kita akan bertanya, mengapa tidak sejak dari awal Allah mengirimkan 1 utusan?. Jawabannya sebenarnya sederhana.
 
Anda tentu pernah melihat baik di televisi, film atau secara langsung dimana ada beberapa tetesan air yang jatuh ke sebuah bidang dan air itu menuju ke satu titik dan akhirnya menjadi satu. Air itu bergerak menuju ke satu titik karena selain ada kesamaan juga karena ada kekuatan terpusat yang kuat. Nah seperti itulah analogi Tuhan dalam mengirim para utusan.

Kita tentu tahu bahwa dalam perkembangan manusia, manusia menghadapi hambatan transportasi dan komunikasi. Terutama pada jaman dahulu atau jaman kuno. Akan lebih sulit jika Tuhan mengirim 1 orang untuk semua bangsa. Akan lebih mudah jika masing-masing bangsa diberi 1 atau beberapa utusan dan setelah jarak antar masing-masing bangsa semakin dekat, dimana transportasi, komunikasi dan hubungan antar bangsa mulai lancar, Tuhan segera mengirimkan 1 orang utusan untuk menyatukannya. Ingat analogi air diatas.

Jadi langkah pertama adalah Tuhan mengirimkan masing-masing bangsa seorang atau beberapa orang utusan. Seperti halnya firman Allah :

[QS 10:47] Tiap-tiap umat mempunyai rasul; maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya.
[QS 35:24] …….Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.

Seiring bergantinya waktu maka para utusan itu telah meninggal sehingga tidak ada yang memberi peringatan lagi alias terputus. Dan yang terjadi adalah mulai ada penyimpangan-penyimpangan didalamnya. Itulah mengapa Allah selalu mengutus utusan terbarunya untuk memperbaiki hal ini.

[QS 5:19] Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari’at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan: “Tidak ada datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Tetapi yang namanya manusia selalu menuju kesesatan. Dari jaman Adam, jaman Hindhu, Budha, Zoroaster, Kristen dan lainnya selalu terjadi penyimpangan.

[QS 16:36] Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

Sesungguhnya meski terjadi penyimpangan, hal itu tidak sampai menghilangkan ajaran hakiki dari Tuhan semesta alam. Dimana ajaran hakiki inilah ajaran yang selalu sama dan selalu diserukan oleh setiap Utusan. Inilah Wahyu hakiki Tuhan pada beberapa agama besar :

Konsep Ketuhanan di agama Zoroaster (Dasatir, Ahura Mazda)
  1. Dia itu satu
  2. Dia lebih dekat padamu daripada dirimu sendiri
  3. Dia diatas segala yang kamu bayangkan
  4. Dia tanpa awal dan akhir
  5. Dia tak punya bapak, istri dan anak
  6. Dia tak berujud
  7. Tak ada yang menyerupainya
  8. Tak dapat dilihat dan dipahami dengan pikiran
Konsep ketuhanan di agama Hindhu sebagai berikut :
  1. “Ekam evadvitiyam” (Dia satu satunya tanpa ada duanya) [Chandogya Upanishad 6:2:1]
  2. “Na casya kascij janita na cadhipah.” (Tak punya orang tua dan tuan) [Svetasvatara Upanishad 6:9]
  3. “Na tasya pratima asti” (Tak ada yang menyerupainya) [Svetasvatara Upanishad 4:19]
  4. “Na samdrse tisthati rupam asya, na caksusa pasyati kas canainam.” (Ujud Nya tak dapat dilihat, tak ada yang bisa melihatnya dengan mata)
    [Svetasvatara Upanishad 4:20]
Konsep Ketuhanan di agama Yahudi :
  1. “Dengarlah hai Israel : Tuhan kita adalah Tuhan yang satu.”[Ulangan 6:4]
  2. “Akulah Tuhan, tak ada penyelamat selain Aku.”[Yesaya 43:11]
  3. “Akulah Tuhan, Tiada Tuhan yang lain .”[Yesaya 45:5]
  4. “Akulah Tuhan tiada yang lain; Akulah Tuhan, Tak ada yang menyerupai Ku.”[Yesaya 46:9]
Konsep Ketuhanan di agama Kristen :
  1. “Bapaku lebih besar dari aku.” [Yohanes 14:28]
  2. “Bapaku lebih besar dari semua.” [Yohanes 10:29]
  3. “…Aku mengusir Setan atas kuasa Tuhan….” [Matius 12:28]
  4. “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.” [Yohanes 5:30]
Mungkin sekarang sudah saatnya bagi Allah Tuhan semesta alam untuk mengirimkan 1 orang utusan untuk menyatukan pesan Allah yang pernah dibawa oleh masing-masing utusan pada tiap-tiap bangsa. Dimana pesan ini sudah diberitakan oleh para utusan sebelumnya di kitab suci mereka bahwa akan ada Utusan Terakhir.


[Al-Quran Surat 33:40] Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Di side bar sebelah kanan (BERITA DATANGNYA NABI MUHAMMAD) terdapat artikel-artikel tentang ramalan datangnya utusan terakhir yaitu Nabi Muhammad  pada beberapa agama besar di dunia

Hal pertama yang dilakukan oleh utusan terakhir yaitu nabi Muhammad adalah dengan mengajak semua bangsa untuk kembali ke ajaran Tuhan yang benar yang pernah dibawa oleh para utusan sebelumnya. Nabi Muhammad menyampaikan firman Allah kepada semua bangsa sebagai berikut :

[AL-QUR'AN SURAT 3.64] Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. 

[AL-QURAN SURAT 2.62] Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. 

(AL-Quran Surat 112 : 1-4 )[1] Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa [2] Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu [3] Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan [4] dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia

Untuk itu marilah kita semua para manusia yang masih hidup, marilah kita kembali menuju ajaran yang sesungguhnya dari Tuhan semesta alam.

Selasa, 28 Oktober 2014

Undangan yang Menyesakkan

Dimuat di Jawa Pos Radar Mojokerto Minggu, 26 Oktober 2014


“Assalamu’alaikum,” suara cempreng mengganggu keasyikanku membaca koran, pagi itu.
“Wa’alaikumsalam, ada apa, Mas?” tanyaku penasaran.
“Benar inirumah Pak Sodron?”
“Benar, ada yang bisa saya bantu?”
“Tidak, Pak, hanya mau mengantarkan undangan dari Mas Akhya.” Dijulurkannya undangan yang dibawanya, aku terima dan langsung aku baca, siapa gerangan Akhya ini. Rasanya-rasanya aku pernah kenal.
“Terima ka...” hem, rupanya pemuda tadi telah meninggalkanku. Mugkin dia pamitan tapi aku tidak menghiraukannya.
Kembali aku menikmati koran halaman cerpen, kesukaanku. Undangan segera kulempar ke tempat biasanya. Biarlah dia bercengkrama dengan teman-temannya yang beberapa hari lalu telah kuterima. Sama! Dari para kurir undangan yang aku tahu mereka mengantarkan undangan itu tidak mungkin gratisan.
Zaman sekarang, mana ada orang mau dengan tulus ikhlas mengantarkan undangan hajatan dengan gratis. Rasa ikhlas memang sudah sulit ditemukan, segalanya dihitung dengan rupiah.
Apalagi hajatan yang diadakan. Sudah dianggap perdagangan dengan menghitung untung rugi. Hah, gara-gara undangan pagi itu, aku jadi tidak bisa konsentrasi membaca koran yang ada ditanganku. Aku lipat dengan kasar dan kubuang di kursi tempat dudukku.
“Ada apa, Mas. Kelihatannya koq kesal banget?” tanya istriku. Rupanya dia tidak sengaja menangkap kekesalanku dipagi yang semestinya kurasakan cerah, sebab hari ini adalah hari libur.
“Itu, tuh lihat di rak koran. Belum lagi sepuluh undangan yang aku terima kemarin dilaksanakan, eh sudah ada undangan lagi, seingatku itu muridku yang baru lulus empat tahun yang lalu.” Jawabku dengan kesal.
“Sama murid koq nggak hafal!” istriku menimpali.
“Kamu tahu sendiri, kan, aku ini tipe orang yang gampang lupa. Apalagi si Akhya ini dulu di sekolah biasa-biasa saja jadi susah sekali aku menghafalnya.”
“Gimana mau hafal, wong yang dihafal cuma aku ini, muridmu yang paling pintar dan paling cantik, he he he.”
“Wah, kalau itu, sih jangan dibahas, Dik. Memang kamu itu muridku dulu yang paling pintar, lincah, gesit, dan cantik lagi. Makanya jangan salahkan kalau aku memilih kamu.”
“Nah, itu sebabnya pean nggak bisa hafal murid-murid lain, wong di hatimu cuma ada aku, tho.” Kataku istriku genit sambil mengerlingkan matanya.
“Siapa bilang, sekarang ada 2 cewek lagi lho yang paling aku ingat selain kamu!” kataku menggoda istriku yang perayu ini.
“HAH, siapa dia!” istriku bersungut-sungut.
“Eits, lupa ya, kita kan udah punya 2 putri yang manis-manis dan lucu. Itu yang mengisi hatiku selain kamu!”
“O...h,” istriku melongo dengan huruf –O-nya. Kelihatan dia tersipu malu. Dan ngeloyor pergi.
“Hei...jangan pergi, pembicaraan kita mengenai undangan belum selesai!” teriakku pada istriku yang malu-malu karena kecemburuannya tadi.
“Males aku, mau nggak mau kita ya tetap harus bowoh tho?” teriak istriku yang sudah sampai dapur. Aku hanya bisa termangu sendirian.
***
“Ayo... Dik, sudah setengah jam masa’ nggak selesai juga. Pean mau aku karatan di teras?” teriakku pada istri yang berdandan mematut diri di depan kaca. Huh, kalau urusan dandan istriku paling jago lamanya. Padahal menurutku tanpa meriaspun dia sudah kelihatan cantik, menurutku, sih.
“Ayo bu...epetang, apek Ani unggu ibu gak lesai-lesai,” teriak putri kecilku dengan suara cadelnya. Maksudnya dia capek menunggu ibunya yang nggak selesai-selesai dandannya, ibunya disuruh cepetan.
“Tara... ibu sudah selesai. Ayo berangkat!” istriku muncul dengan dandannya yang pas. Hem, dalam hal ini aku akui istriku memang jago dalam merias wajahnya sendiri. Kecantikannya semakin kelihatan. Tapi jangan GR dulu, sebab aku ini termasuk pelit dalam memuji.
“Huh, wong ya tetap kelihatan begitu saja, selesainya lama banget!” kataku menggoda dia. Dapat diduga cemberut menghias wajahnya.
“Mas, selalu begitu, nggak ngurus, ayo kita berangkat.”
Jadilah malam itu aku ke kondangan Akhya. Di perjalanan tak henti-hetinya dua putri kecilku ngomong masalah bowoh. Mereka paling suka kalau diajak kondangan. Bahkan mereka sering menangis jika mendengar ada suara sound system dari jauh tapi mereka nggak kuajak bowoh. Mereka tak tahu bahwa bowoh bukanlah kegiatan gratis. Aha...aku jadi ingat amplop tadi sudah aku bawa apa belum, ya?
“Dik, aku belum bawa amplop, pean sudah siapkan?” tanyaku setengah berteriak pada istriku yang di belakang.
“Beres, Mas. Sudah aku bawa dua amplop untuk pean dan untuk aku,” jawab istriku. Ah.. lega rasanya, sebab aku paling sebal kalau bepergian ada yang terlupa dan harus kembali pulang. Kegiatan seperti itu paling menjengkelkan.
Pean isi berapa?”
“Biasa Mas, pean tiga puluh, aku duapuluh.”
“Sip, memang harus dipaskan segitu.”
“Iya, Mas aku tahu, kita ini penghasilan masih kecil, kalau dibuat sombong-sombongan bisa bangkrut kita.”
“Koq, bangkrut, memangnya kita ini dagang?” kataku pura-pura nggak tahu.
“Halah, kayak nggak tahu saja. Bulan-bulan begini kan banyak undangan, lha kalau kita nggak mengontrol keuangan. Hutang bisa menumpuk lagi, Mas.”
“Bagus, istriku memang pintar. Ya sudah tak konsen setir sepeda.”
Hanya sekitar lima belas menit aku sampai di tempat acara. Sambutan tuan rumah tak seperti yang kubayangkan. Aku hanya disalami dan sama sekali tidak dipersilakan duduk. Benar Akhya ini memang muridku dulu. Tapi sepertinya dia tak begitu mengenalku. Aku jadi bertanya-tanya kenapa dia mengundangku?
Hampir sepuluh menit nasi tidak datang, dua putriku merengek minta pulang karena nggak makan-makan.
Yah, ayo ulang, eyung Ana yapar, koq nggak atang-atang ce asinya?” kali ini Ana yang lebih cerewet bertanya-tanya kenapa nasinya nggak datang-datang padahal perutnya sudah lapar.
“Sabar, ya sayank, itu ada Bapak yang ke sini membawa nasi,” memang benar nasi itu akhirnya datang. Anakku langsung melahap nasi itu sampai tandas, dalam hati senang juga melihat mereka suka makan. Sayangnya itu adalah jatahku dan istriku, anakku tidak ditawari sehingga aku cuma menerima dua piring. Mau minta empat piring, sungkan dikiranya kami ini keluarga krungsapan alias nggrangsang.
Sambil menahan lapar, karena aku tadi di rumah memang sengaja tidak makan, kulihat dari jauh Akhya ngomong akrab dengan teman-temannya yang baru datang. Sedangkan aku sampai detik ini tidak juga diliriknya. Entah dianggap apa aku ini, sedangkan tamu undangan tidak banyak-banyak amat, sehingga mustahil jika dia tidak melihat tempat dudukku.
“Mas, sebetulnya yang nggak ingat itu pean apa si Akhya ini, koq dari tadi pean nggak dihiraukan?” tanya istriku, rupanya dia gelisahnya sama dengan aku.
“Nggak usah dibahas, Dik. Kita pulang saja, tuh, anak kita sudah selesai makan.”
Kami berempat bergegas pulang. Amplop kusiapkan untuk dimasukkan meja khusus. Akhya aku pamiti, dia menyalamiku sambil duduk dang langsung ngomong lagi dengan teman-temannya, tak ada ucapan terima kasih. Rupanya aku harus menahan kekesalanku lebih dalam ketika sampai di meja terima tamu, aku cuma dikasih 2 botol minuman karbonasi, tak ada yang lain, apa yang aku bawa ini sama persis dengan tamu undangan lainnya.
Hal inipun tak luput dari perhatian istriku.
“Mas, koq cuma dikasih begini ya, kemarin kita bowoh ke murid pean yang lain kita kan dapat bingkisan khusus, bahkan kita juga ditonjok dengan seember makanan dan kue-kue?”
Pean ini, Dik dari tadi koq cerewet ya, sudah, nggak usah dibahas ayo segera pulang.” Istriku langsung terdiam. Rupanya kekesalanku malam ini akhirnya tertumpah pada istriku, dia jadi sasarannya. Kasihan istriku, tak bersalah kenapa aku marahi.
***
Begitulah, undangan demi undangan dari berbagai kalangan silih berganti datang memenuhi rak koran di ruang tamuku. Mulai dari teman guru, teman sekolah atau kuliah, tetangga, dan tak lupa dari beberapa murid yang akrab ataupun yang tak begitu aku kenal.
Selain murid aku dengan antusias datang karena itu aku anggap sebagai ajang silaturrahim yang kebanyakan memang terputus karena memang aku tidak berhubungan dengan mereka.
Namun dari murid, entah mengapa sampai sekarang aku kurang bisa menerima. Sebetulnya aku tak boleh berperasaan begini, anggap saja itu sebagai bentuk sedekah. Namun tetap saja niat ikhlas seringkali terbentur dengan sambutan dari beberapa murid yang seakan-akan menganggap kedatanganku sebagai tamu biasa, alias tidak istimewa.
Salahku juga yang ingin diistimewakan. Tapi bagaimanapun aku ini manusia biasa yang tak bisa menahan perasaan ingin dihargai.
Apalagi kalau sudah bicara isi kantong, sampai bolong kantongku hanya untuk bowoh.
“Kita anggap saja, Mas, bowoh kita sebagai tabungan kita, toh suatu saat kita nanti punya hajatan juga, kan?” Kata istriku suatu ketika.
Langsung saja aku bersungut-sungut, “Maaf, Dik, jangan sekali-kali berperasaan demikian. Aku tak pernah mengharapkan balasan, pean tahu sendiri, kan. Aku paling nggak suka punya hajat, sebab aku nggak inginacara kita malah menyusahkan orang lain.”
“Oh, ya, aku lupa, Mas. Pean punya pendirian begitu, makanya dulu undangan nikah kita cuma seratus, padahal teman pean kan bisa sampai ratusan waktu itu.”
“Itulah, dik, seratus itu saja dulu rasanya gimana... gitu. Seperti tukang tagih saja!”
Hari berjalan seperti biasa, undangan masih juga mengalir tanpa bisa dicegah. Memang sih, ada satu dua yang aku tidak datang selain kadang karena nggak punya uang ada yang tak sudi aku datang karena yang mengundang benar-benar aku tidak kenal.
Di sekolah, seringkali tonjokan datang dari wali murid yang punya hajat. Kalau yang begini wajib hukumnya guru datang ke rumahnya, sebab tonjokan dianggap sebagai undangan wajib, haram hukumnya kalau tak bowoh.
Jika demikian, seringkali aku hutang sama teman atau TU sebab kantong memang sudah benar-benar bolong. Bertahun-tahun berjalan demikian hingga ini sudah dianggap wajar atau lumrah.
Dan akhirnya kabar gembira itu datang dari kebijakan kepala sekolah salah satu tempatku mengajar. Dan itu disampaikan pada pertemuan seluruh wali murid saat penerimaan rapor.
“Ibu-Ibu dan Bapak-bapak yang saya hormati, ini yang terakhir kali saya sampaikan setelah saya uraian kebijakan sekolah tadi. Mulai saat ini setiap wali murid yang punya hajat dilarang memberi tonjokan ke sekolahan. Sebab saya tahu tujuan Bapak-Ibu mengirim itu selain sebagai syukuran, secara tidak langsung juga mengundang kami ini selaku guru putra-putri Bapak-Ibu untuk datang ke rumah jenengan. Datang ke rumah jenengan apalagi kalau tidak bowoh?” Waduh kasar juga kata-kata Kepala Sekolahku ini.
“Maaf, Pak!” salah satu wali murid mengacungkan jari.
“Ya, silakan,” Bapak Kepsek memberi waktu.
“Kami tak pernah berpikiran seperti itu, kami ikhlas mengirim tonjokan. Bapak-Ibu guru tidak datang ke rumah, kami tidak akan mempersoalkan.” Nah, kan, pasti ada yang protes demikian.
“Ya, itu mungkin sebagian perasaan Bapak-Ibu wali murid. Tapi Anda tahu, kan. Adat bowoh sudah mendarah daging. Kami tidak enak jika ada tonjokan tapi kami tidak bowoh. Kalau boleh jujur, honor kami sebagai guru jauh di bawah gaji karyawan pabrik. Makanya saya sangat keberatan jika guru-guru saya harus selalu bowoh jika ada tonjokan dari saudara-saudara.”
“Maka, mulai saat ini saya ambil kebijakan, siapapun wali murid yang punya hajat dilarang memberi kiriman jajan atau makanan ke sekolahan. Seandainya tetap saja ada yang mengirim kami ucapkan terima kasih. Dan yang pasti guru-guru tidak akan bowoh. Mohon maaf jika kebijakan ini menyinggung perasaan bapak-Ibu semua.” Bapak Kasek menyudahi pertemuan.
Memang sejak saat itu tonjokan banyak berkurang. Rupanya benar dugaan Bapak Kepala sekolah. Dan yang pasti meski dapat tonjokan kami para guru tak pernah bowoh kepada si pengirim. Bagaimana mau bowoh kami para guru memang nggak punya anggaran khusus untuk itu.
Setidaknya kebijakan Bapak Kepala Sekolah ini yang memang menyinggung perasaan banyak orang mengurangi pengeluaranku untuk menghadiri undangan. Dan aku perlu acungi jempol kepada beliau. Dan yang lebih penting lagi kebijakan tersebut mengurangi beban dosaku yang selalu ingin diistimewakan oleh murid yang mengundangku. Suatu perasaan yang sampai sekarang tak bisa aku tepis apalagi aku buang.