Selamat datang!! Silakan Anda mengutip semua artikel yang ada di kami tapi Anda harus menyertakan saya sebagai penulisnya

Sabtu, 31 Maret 2018

BINGUNG REZEKI 2


Jika bangun pagi tadi masih tidak mantap dengan rezeki yang sudah kita raih selama ini, marilah kita flashback.
Apakah selama ini kita minta ke Allah diberi oksigen? Apakah sebelum lahir dulu kita minta agar dijadikan lelaki/perempuan? Apakah pernah kita memerintah jantung berdetak, usus melembutkan makanan, dsb, dsb.Semua terjadi otomatis, tak pernah minta, tak pernah memerintah. Allah yang menjamin semua.
Jadi, mengapa kita mesti khawatir rezeki tidak cukup? Mengapa kita takut tidak makan?
Saya ada cerita sedikit
Sebelum punya mobil, saya dulu adalah pengemar setia Yamaha 75, yang saya istilahkan yamaha Tujuh Linu, karena sehabis mengendarainya dari rumah ke tempat kerja 52 KM PP, badan terasa linu semua karena skoknya mati.
Mirisnya lagi banya onderdilnya yang sudah tidak menancap dengan sempurna di rangkanya. Sehingga pada suatu ketika di tengah perjalanan sedang macet, entah karena apa saya ditabrak dari belakang, mungkin dia terlambat mengerem. Tidak terjadi apa-apa, namun kenapa pantat saya terasa dingin, ketika saya tengok, Ya Allah, ternyata saya duduk di atas tangki mobilnya, sedangkan joknya tergeletak dengan lemas di bawah samping sepeda. Ha ha ha.
Cerita tidak berhenti di situ. Suatu sore ketika pulang, saya mau mampir ke saudara di Condong Jetis Mojokerto, perjalanan lancar-lancar saja. Kebiasaan saya memakai sapu tangan untuk masker saya turunkan/buka, sebab sebentar lagi melewati sebuah pabrik yang terkenal dengan para gadisnya, tentu saja CP-CP, maklum masih bujang. Sebentar kemudian sampailah di pabrik tersebut.
Namun, entah kenapa kok suara sepeda motor menjadi lebih keras, saya tidak terlalu peduli karena harus tampil se cool mungkin. Tapi rasanya kok nggak enak juga ya suaranya semakin keras. Menengoklah saya ke belakang. Lagi-lagi... Ya Allah ternyata sekarang knalpot yang tidur terlentang di pinggir jalan. Kenalpot saya copot sodara-sodara.
Karena kejadian inilah saya merintih dalam hati. Rupanya allah mendengar keluhan ini, sehingga tanpa diduga, sawah ayah yang lama tidak laku-laku terjual. Saya yang anak bungsu mendapat bonus lebih banyak dari Ayah. Sebentar kemudian sepeda motor Honda Ulung terpegang.
Bukankah ini rezeki yang tidak kita minta tapi Allah yang mencukupi.
Namun cerita belum berakhir, tentang rezeki ini dan hubungannya dengan sepeda motor masih berlanjut. Insya Allah nanti kalau ada kesempatan lagi. 

BINGUNG REZEKI 1

Masih bingung dengan rezeki? Hari gini masih bingung, nggak zama bro....
Di antara kita sudah banyak kok yang yakin dengan datangnya rezeki, keajaibannya yang selalu datang ketika dibutuhkan, keanehannya yang nggak pernah lari tapi selalu dikejar, keunikannya yang mencukupi saat kita kekurangan dan.... teruskan sendiri ah!
Bagi kamu-kamu yang masih muda-muda sering ketakutan kan, ketika mau menggenapi separuh agama? Atau bisa jadi kalian malah terlalu nekat sehingga tak pikir panjang langsung melamar pujaan tak peduli bagaimana sumber keuangan nanti dicari.
Jangan khawatir, awal rumah tangga yang keuangan selalu berantakan adalah garam kehidupan yang membuat sedap masakan biduk rumah tangga. 
Namun bukan rumah tangga yang ingin saya ceritakan kali ini, namun memang berhubungan dengan rezeki. Dulu sih saya nggak sadar ketika hal itu terjadi, namun sekarang barulah saya menyadari ternyata saya telah mengalami keajaiban berkali-kali.
Ketika kuliah, dengan gaji yang cuma 300ribu dipotong beli bensin satu bulan ± 150ribu belum lagi kepotong beli makan, tentu nggak masuk akal jika harus kuliah dengan biaya SPP 80rbu per bulan, belum lagi beli buku, bayar diktat, foto copy materi, cetak makalah dll.
Nyatanya ketika saya butuh bayar kuliah 600ribu sedangkan dompet kosong melompong, ada rezeki tunjangan insentif dari pemerintah, anehnya saya nerima 600ribu karena memang insentifnya 100rbu/bln. Ketika herregistrasi butuh 1 juta, dilalah kok dapat pesanan kalender 1000exp, labanya setelah dipotong sana sini ternyata 1juta tidak kurang tidak lebih. 
Masih ingin contoh lain? Motor yang sudah butut harus ngandang ke servis dan saya harus pulang naik angkot sepulang kerja. Lagi-lagi dompet kosong sehingga naik angkotpun aku harus ngutang ke tukang servis untuk bisa membayarnya. 
Kata tukang servisnya saya harus menyediakan sekitar 800ribu. Ampuun uang dari mana? Tiga hari motor itu harus diambil, dan begitu ajaibnya rezeki itu datang, ketika sedang asyik-asyiknya mengerjakan tugas, saya dipanggil bos, “Ris, ini ada rezeki sedikit, bonusmu karena sering lembur,” kata beliau. Disodorkannya sebuah amplop. Saya terima dengan deg-degan, rupanya dihargai juga lembur saya selama ini, saya kira cuma ikhlas-ikhlasan saja.
Sekeluar ruangan langsung saya buka, dan....Anda sudah tahu berapa isinya, Yup...800rbu sodara-sodara. Pas buat ambil motor.
Nah, kesimpulannya jangan takut lagi deh sama rezeki, yang takut menikah padahal umur sudah cukup, buang jauh-jauh deh pikiran miskin, Allah akan mencukupi, karena DIA menciptakan manusia sudah ditakar kebutuhannya. Bukan begitu?

JIKA BERTENGKAR DENGAN PASANGAN



Yang sudah rumah tangga, cerita saya berikut pasti pernah terjadi. Yang belum menikah, mungkin cerita berikut menjadi inspirasi dan bisa jadi pegangan.
***
Bakda maghrib menjelang isya’ entah kenapa obrolan yang gayeng dengan istri bersenda gurau berubah menjadi selisih pendapat. Kami tak mau saling mengalah apalagi mengakui kesalahan masing-masing.
Perdebatan itu semakin panas, sebagai suami, sebagaimana fitrahnya pasti tak mau mengalah. Omongan saya semakin menukik dan tentu saja menyakiti hati istri yang sekarang sudah mulai berkaca-kaca matanya.
Hati wanita yang halus, yang selalu merindukan kasih sayang, menantikan belaian kelembutan, kini tersakiti karena perkataan saya yang begitu menyakitkan. Mengalirlah airmatanya, saya tak hendak mengusapnya karena hati sedang panas dan merasa benar.
Terguguk dia menutupi wajahnya dengan bantal, sedang saya hanya memandanginya dengan perasaan benci yang membuncah. Beberapa menit berlalu, kesunyian terasa karena hanya suara isak tangis yang terdengar.
Namun, tiba-tiba suara ketukan pintu mengagetkan kami. Lebih kaget lagi ternyata itu suara mertua saya yang bertamu. Sontak istri saya bangkit dari tidurnya, entah kenapa dia langsung mengambil di nakas hias, sebuah botol, entah apa itu.
Sejurus kemudian saya meninggalkannya untuk membukakan pintu. Saya persilakan duduk mertua. Sedang istri saya masih di kamar.
“Istrimu mana, Ris?”     tanya Bapak.
“Di dalam pak,” jawab saya.
“Ngapain?”
“Nggak tahu Pak, sepertinya lagi berhias,” jawab saya asal bunyi.
Sebentar kemudian, istri saya keluar, dan astaga.... dia memakai masker wajahnya.
“Mau Isya’ kok maskeran, nggak sholat kamu nanti?” tanya Ibu mertua.
“Mumpung sempat, bu. Nanti kalau habis Isya biasanya ketiduran, jadi lupa maskernya kan saya pengin cantik terusss.” Jawab istri sambil tersenyum. Entah tangisnya tadi sepertinya sudah menguap.
Saya pun meninggalkan mereka. Untuk membeli minuman dan camilan. Dalam perjalanan sungguh hati ini menjadi terharu sekaligus memuji kehebatan istri saya. Pertengkaran tadi tidak membuatnya lapor ke mertua, ia malah menutupi wajah dan mata merahnya dengan masker.
Begitulah, sampai pulang, mertua sama sekali tidak tahu kalau kami habis bertengkar. Ketika mereka pulang, saya hampiri istri saya,
“Kok kamu tadi tidak bilang ayah dan ibu kalau kita sedang bertengkar, kan enak kita bisa diberi masukan dan diakurkan?”
“Buat apa, Yank, itu problem kita, kita pecahkan bersama, biarlah ortu tahunya kita bahagia terus, cukuplah mereka dengan problem mereka sendiri, buat apa kita tambahi masalah kita.”
“Lagian, kalau kita direcoki ortu, nanti malah tambah runyam karena ada salah satu yang akan dibela..”
Ah....mata jadi berkaca-kaca, langsung kupeluk istri saya, sungguh Ya Allah, aku telah Engkau beri makhluk yang terbaik untukku.
“Istriku maaf, hingga saat ini aku belum bisa memberikan yang terbaik, kebahagiaan yang sempurna, justru tiap hari aku membebanimu dengan tanggung jawab yang berat.”
Istriku hanya tersenyum, seraya meletakkan kepalanya di dadaku. Ah....

JADI....
Kalau dengan pasangan kita ada ketidak cocokan, itu berarti ada perbedaan, dan memang perbedaan itulah yang membuat kita bersatu.
Kalau ada masalah, jangan sampai ada orang luar yang memberi masukan, apalagi ikut campur tangan.
Karena kita sudah punya pasangan, berarti hanya pasangan kitalah tempat curhat, tidak ada yang lain, apalagi curhat di MEDSOS, tak ada guna malah mengumbar aib diri sendiri dan pasangan. Naudzubillah.


Jumat, 28 Juli 2017

Belajarlah Ilmu Sekaligus Adab pada Gurumu



Ada orang yang sebelumnya teriak-teriak “hormati ulama”, eh yang jelas-jelas ulama malah disebut “pendeta Syiah” dan seenak sendiri melabeli “ulama su'”.
Kalau tidak punya ilmu, setidaknya punya adab mestinya. Eh ini ilmu tak punya, adab juga nihil. Hobi menantang dan menuduh orang bidah, sesat, kafir, dan label pembunuhan karakter lainnya.
Hadis Abu Hurairah berikut ini menjelaskan kualitas iman orang-orang seperti itu: “Orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatanya (mestinya) yang baik-baik; atau (kalau tidak bisa) sebaiknya diam,” (HR Al-Bukhari).
Jadi paham kan sekarang seperti apa kualitas iman orang-orang yang seperti itu?! Kalau berdasarkan hadis di atas, tentu iman mereka rendah sekali.
Lalu, mengapa mereka begitu? Jawabannya sepertinya karena ilmunya sebatas hasil kopasan. Dan, yang dikopas tulisan orang itu lagi, orang itu lagi. Wawasannya jadi terkungkung, tak berkembang.
Padahal kalau benar ingin thalabul ilmi (mencari ilmu), harusnya mau menerima dan mencari ilmu dari siapa pun dan dari manapun.
Apalagi pengetahuan agama mereka juga diperoleh secara instan dari artikel-artikel yang ada di situs, radio, atau TV tertentu, bukan dari proses talaqqi (bertemu dan berinteraksi langsung dengan guru), sehingga tidak bisa belajar adab sekaligus pada saat belajar.
Belakangan yang sering dibanggakan orang-orang itu adalah ilmunya yang diperoleh dari YouTube. Padahal yang disaksikannya di YouTube itu ilmu instan, bukan ilmu organik dan sistematis seperti kajian atas suatu kitab.
Ibarat orang yang nonton bola di TV tapi merasa lebih tahu dengan apa yang terjadi di lapangan melebihi yang nonton langsung di stadion.
Nah, dengan segala kelemahan transmisi keilmuan yang mereka dapatkan, yang tak habis pikir adalah gaya mereka yang kadang ugal-ugalan dengan sok-sokan seperti sudah merasa menjadi mufti-mujtahid.

Dengan gaya yang seperti itu, eh ketika disuruh baca Alquran, bacaannya masih level matrikulasi. Boro-boro disuruh baca literatur berbahasa Arab. Di sinilah pentingnya pada saat belajar ilmu, juga belajar adab pada ilmu dan orang yang berilmu. (

Moch. Syarif Hidayatullah) Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media. Pengajar di Program Magister Fakultas Adab dan Humaniora. Ketua Program Studi Tarjamah FAH UIN Syarif Hidayatullah. Doktor Filologi Islam dan Analisis Wacana.

Jumat, 10 Maret 2017

TAKDIB v TARZAQ


Kamis (22/12/2016), Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa DPRD Jombang, H Mas’ud Zuremi cerita laporan kiai. Kiai ini punya santriwati yang mulai MI, MTs, MA selalu berjilbab. Suatu ketika kiai ini mengantar istri belanja di super market di Jombang.

’’Dia melihat karyawati tak berjilbab yang mirip santrinya,’’ tuturnya. Melihat kiainya, karyawati ini singitan (sembunyi). Sama kiainya dicari hingga ketemu. Setelah ketemu ditanya, apakah disini dilarang berjilbab?    ’’Santri tersebut menjawab iya.’’

Takdib alias pengajaran dan pembiasaan berjilbab selama 12 tahun tergerus hanya demi kerja dengan  gaji Rp 500 ribu per bulan.

Saat ngaji rutinan Senin (21/11/2016), Pengasuh PP Al-Muhibbin Bahrul Ulum Tambakberas, KH Djamaludin Ahmad menganjurkan jamaah untuk kerja. ’’Kerja apa saja yang penting halal dan bisa tetap ibadah,’’ tuturnya. Iso tetep berjilbab.  Wayahe shalat bisa tetap shalat.

’’Awal menikah kulo niki masih santri. Pernah nyambut gawe nopo mawon. Jualan kayu juga pernah. Saya pernah tanya orang yang bekerja macam-macam. Penjual sayur, penjual nasi, penjual ikan, tukang cukur, tukang jahit, semua saya tanya rata-rata penghasilannya satu bulan sama dengan teman saya yang PNS,’’ jelasnya.

’’Sampean nyambut gawe ora halal, ora iso ibadah, buat apa!’’ ujarnya.

Saya sendiri pernah bertanya kepada penjual es tebu. Dalam sehari, dia bisa dapat penghasilan bersih Rp 50 ribu.

Jumat (23/12/2016), Ketua LDNU Jombang, KH Cholili menjelaskan makna QS Adzariyat 56. Wama kholaqtul jinna wal insa illa liya’budun. Manusia dan jin diciptakan tidak lain hanya untuk ibadah. ’’Ibadah ini tidak ada batasan waktu. Jadi orang Islam itu ibadahnya 24 jam sehari,’’ tuturnya.

Tidurnya ibadah.  Kelonnya ibadah.  Mandinya ibadah. Kerjanya ibadah. Berjilbab, itu juga ibadah. ’’Melarang berjilbab, itu sama dengan melarang shalat. Sama dengan melarang puasa. Sama dengan melarang haji,’’ tandasnya.

Sedekah Bikin Khusnul Khotimah


Saat ngaji dihadapan ibu-ibu Bhayangkari di Polres Jombang, Jumat (3/2/2017), Pengasuh Pesantren Al Amanah Bahrul Ulum Tambakberas, KH Abdul Kholiq Hasan menjelaskan tips mati baik alias khusnul khotimah. ’’Dimanapun kita berada pasti mati, walaupun dalam benteng yang paling kokoh sekalipun,’’ ucapnya kala menjelaskan QS Annisa 78-79. ’’Sedekah, bisa membuat kita khusnul khotimah,’’ tuturnya.

Beliau lantas menceritakan Abdullah Bin Mubarak. Saat sedang tawaf di Kakbah, Abdullah sempat tiga kali mimpi ketemu Rosulullah yang titip salam pada Bahrom Almajusi, seorang penyembah api.

Pulang haji, Abdullah lalu mencari Bahrom. Abdullah bertanya kebaikan Bahrom. Diluar dugaan, Bahrom justru cerita kejelekan-kejelekannya. Dia meminjamkan uang dengan sistem riba. Dia punya anak empat pria dan empat wanita, semuanya dinikahkan dengan saudaranya sendiri. Satu lagi putrinya yang paling cantik bahkan dinikahi sendiri. Siantara semua dosa itu, dia hanya punya satu kebaikan. Suatu malam ada perempuan muslimah berdiri mencurigakan di depan rumahnya. Bahrom lantas membuntuti perempuan itu. Ternyata perempuan itu ditunggu anaknya yang menangis kelaparan. Si perempuan malu minta makan kepada Bahrom yang non muslim. Mendengar itu, Bahrom lalu pulang mengambil makanan yang enak diberikan kepada keluarga tersebut.

Abdullah lalu berkata, itulah kebaikan yang membuat Rosulullah menyampaikan salam kepadamu. Mendengar itu, Bahrom merasa gembira dan masuk Islam. Setelah mengucap syahadat, dia wafat.

Sedekah, kata Gus Kholiq, bisa menghindarkan musibah. Juga bisa mengubah takdir jelek menjadi baik. Hal-hal buruk yang mestinya menimpa, diganti oleh Allah dengan yang baik. Sebagaimana disebutkan dalam QS Ar Ra’d 39 dan QS Hud 11.

’’Walaupun demikian, kita tak boleh sombong dengan amal kita,’’ ucapnya. Sebab ada orang yang seakan-akan bakal masuk surga, tapi diakhir hayat berbuat dosa dan suul khotimah sehingga masuk neraka. ’’Orang yang banyak dosa juga tak boleh putus asa. Sebab pintu taubat selalu terbuka seperti Bahrom diatas,’’ bebernya.  ’’Kullun muyassarun lima khuliqo lah. Calon ahli surga, selalu dimudahkan berbuat baik. Calon ahli neraka, selalu dimudahkan berbuat buruk,’’ pungkasnya

TEORI PRODUKSI ULAMA




Saat ngaji dalam haul masyayikh di Pesantren Al Fatimiyah Bahrul Ulum Tambakberas,  asuhan Rois Syuriah PCNU Jombang, KH Abdul Nashir Fattah, Kamis (9/2/2017), KH Qoyyum Mansur Lasem Jateng menjelaskan teori produksi ulama. ’’Dalam pandangan tasawuf, ada sejumlah teori memproduksi ulama,’’ tuturnya.


PERTAMA, TEORI TEMPAT. ’’Tempat kelahiran mempengaruhi karakter seseorang,’’ kata Gus Qoyyum. Beliau lalu mencontohkan Hakim bin Hizam dan Sayyidina Ali yang lahir di dalam Kakbah. Hakim menjadi dermawan hingga rela menjual kantornya untuk disedekahkan. Sayyidina Ali menjadi ahli ilmu. Nabi Muhammad SAW sampai berkata, aku gudangnya ilmu dan Ali pintunya. ’’Jadi kalau akan melahirkan, cari tempat yang baik. Misalnya rumah sakit Islam. Bisa RSNU atau RS Muhammadiyah. Atau cari keluarga dan lingkungan yang baik,’’ sarannya.


KEDUA, TEORI KELUARGA. Di Quran, ada 26 kali penyebutan keluarga dengan kata ali, ala, alu. Keluarga Nabi Ibrahim dua kali. Keluarga  Nabi Luth empat kali. Firaun paling banyak 14 kali. ’’Siapapun, bisa punya jiwa Fir’aun. Penguasa maupun ulama juga bisa punya jiwa Fir’aun,’’ tuturnya. Ilmuwan Jepang sepakat bahwa ketika anak usia empat bulan dalam kandungan diperdengarkan musik, bisa mempengaruhi tumbuh kembangnya. ’’Kalau ingin anak jadi penyanyi, sejak empat bulan dikandungan perdengarkan lagu-lagu. Kalau ingin anak pintar ngaji, perdengarkan bacaan Quran,’’ sarannya. Beberapa tahun lalu saat ngaji Alhikam Senin malam, saya sempat mendengar KH Djamaludin Ahmad, menyarankan agar suami minimal baca QS Yasin tiga kali dan fatihah 40 kali setiap hari, selama istri hamil.


KETIGA, TEORI  SEKS. Ada wali yang buta bernama Ali Alkhowas. ’’Semua ilmunya  laduni,’’ tuturnya. Ali Alkhowas menuturkan, siapa yang dibayangkan sebelum, selama dan setelah berhubungan seks, akan mempengaruhi anak. Sebab ada energi yang mengalir dari pikiran, kedalam jiwa, lalu ke anak. ’’Kalau yang dipikirkan ulama, jadinya ulama. Kalau yang dipikirkan penyanyi, ya jadi penyanyi,’’ ucapnya disambut ger-geran jamaah.


Beliau lantas menceritakan kandungan QS Ali Imron 37-39. Nabi Zakariya sangat mengagumi Maryam. Karena setiap kali mendatangi kamar Maryam di masjid, selalu ada makanan dari Allah. Nabi Zakariya lalu berdoa minta anak. Kemudian diberi anak Nabi Yahya. ’’ Nabi Yahya ini ada kesamaan dengan Maryam. Sama-sama tidak menikah,’’ paparnya.


Gus Qoyyum menambahkan, apa yang kita cintai, apa yang kita pikirkan, energinya akan menyalur dalam diri kita. ’’Kalau kita cinta Rosulullah, maka Allah akan mentransfer energi sehingga karakter kita mirip Rosulullah,’’ bebernya.

Beliau lalu mencontohkan Napoleon Bonaparte, pemimpin Perancis. Setiap ketemu wanita tua, dia selalu berhenti menghormat. Itu dia lakukan karena setiap melihat wanita tua, dia teringat ibunya. ’’Dia pun jadi pemimpin yang karakternya baik seperti ibu.’’


Di Mesir, pernah ada wanita di penjara. Penguasa menghendaki dia cepat mati. Keluarganya dilarang membawa makanan saat membesuk. Lama sekali wanita ini tidak mati. Penjaga lalu mengintip wanita itu saat ketemu anaknya yang tiap hari membesuk.  Diluar dugaan, anak perempuan itu ternyata menyusui ibunya. ’’Ibu menyusui anak. Sekarang anak membalas menyusui ibu,’’ tuturnya.


Loh, kalau begitu sang ibu jadi anak persusuan? Saat ngaji di Masjid Alun-Alun Jombang Jumat (10/2/2017), KH Mustain Syafiie menuturkan bahwa yang bisa jadi saudara persusuan itu kalau yang disusui dibawah usia dua tahun.  Suami ora mungkin dadi anake istri.


Kembali ke Gus Qoyyum. ’’Melihat kasih sayang anak ke ibu yang seperti itu, energi kasih sayangnya lalu menular kepada si penjaga. Menular kepada si penguasa. Sehingga ikut kasihan dan akhirnya disuruh membebaskan,’’ urai Gus Qoyyum.


Ini persis yang dikatakan KH Chusein Ilyas. Kalau ingin Jombang bebas narkoba, perbanyak salawatan. Energi salawatan akan mengikis narkoba.


Ini seperti yang diceritakan KH Idris Jamal, saat kuliah wada IAIBAFA (19/11/2016). Kala ada santri jagoan yang ingin membubarkan kemaksiatan di kampung, Mbah Maimun Zubair, justru melarang. Santri itu malah disuruh bangun musala dan ngulang ngaji. Energi salat dan ngaji akan mengikis kemaksiatan.


 KEEMPAT, TEORI TRANSFER. Gus Qoyyum cerita, ada ulama bernama Sakdudin Attaftahzani. Beliau belajar puluhan tahun tapi tetap bodoh. Sampai suatu hari, ada orang datang kepadanya memberitahu bahwa dia ditunggu Rosulullah. Dia lalu datang dan disuruh membuka mulut lalu diludahi Rosulullah. Sejak itu, dia menjadi ulama brilian. ’’Ada kesunahan, kita sowan ulama membawa kurma lalu minta ulama tersebut memamahnya. Kemudian kurma pamahan tersebut diberikan pada anak kita,’’ paparnya.


Waktu kecil, saya sering makan sesuatu yang dipamahkan oleh bapak saya. Bisa jadi, gus-gus itu jadi ulama karena kecilnya sering makan dari makanan yang dipamah bapaknya yang seorang kiai.


Tokoh Muhammadiyah KH Muchid Jaelani sempat cerita, saat mondok di  Tebuireng, mulutnya pernah diludahi Gus Kholiq, pengasuh Pesantren Tebuireng yang dikenal sakti. Sejak itu, beliau bisa membaca sendiri kitab-kitab kuning meskipun yang belum diajarkan.