Selamat datang!! Silakan Anda mengutip semua artikel yang ada di kami tapi Anda harus menyertakan saya sebagai penulisnya

Jumat, 25 November 2016

MELARAT AKHIRAT

Saat ngaji pada rutinan Rijalul Ansor di Masjid Agung Baitul Mukminin Alun-alun Jombang, Sabtu (12/11/2016), pakar tafsir Quran Pesantren Tebuireng, DR KH Mustain Syafiie, mengaku sangat senang dengan amaliah yasinan dan tahlilan yang dimiliki NU. Yasinan dan tahlilan biasa digunakan untuk mendoakan orang yang telah meninggal dunia.


’’Saya membaca dalil yang menyatakan Yasin tahlil itu  tidak sampai kepada orang mati. Saya juga membaca dalil yang menyatakan sampai.  Saya pilih ikut yang sampai sebab saya tidak yakin bisa masuk surga dengan  amal saya sendiri,’’ tuturnya.


’’Amal  apa yang akan kita andalkan untuk bisa sampai di surga? Shalat jamaah lima waktu belum bisa istiqomah? Khataman Alquran seminggu sekali belum ajeg? Qiyamul lail arang-arang? Terus opo sing diandalno?’’ tuturnya.


Apalagi infaq di jalan Allah. Apa sudah mau menyerahkan sepertiga harta seperti Sahabat Ustman bin Affan? Apalagi separo harta seperti Sahabat Umar? Apalagi seluruh harta seperti Abu Bakar? ’’Karena itu kita masih butuh kiriman-kiriman doa orang lain,’’ ujarnya.


’’Saya kasihan dengan orang yang meyakini doa orang hidup tak akan sampai kepada orang mati. Mereka ini akan miskin di akhirat. Mereka ini akan melarat di akhirat,’’ ucapnya.


’’Yok piye ora melarat? Begitu ada orang hidup kirim Yasin tahlil lil muslimin wal muslimat, mereka tak akan dapat bagian. Sama malaikat mau diberi, oleh Allah dipotong. Wong iku gak usah. Uripe biyen ora yakin doa ngene iki nyampek,’’ ucapnya.

(Postingan Seorang Wartawan)

ANSOR ORA TAU MANGKEL

Saat ngaji rutin Senin (31/10/2016), Pengasuh PP Al-Muhibbin Bahrul  Ulum Tambakberas, KH Jamaludin Ahmad menjelaskan karakter kader Ansor. Seperti yang ditunjukkan Saad bin Luhaiah Al Ansori. ’’Suatu ketika saat sedang bersama para sahabat, Nabi berkata, akan liwat dijalan ini seseorang yang menjadi ahli surga,’’ tuturnya.  Ternyata yang liwat adalah wong Ansor tersebut.


Besoknya, kembali Nabi berkata begitu dihadapan para sahabat. Ternyata yang liwat tetap Saad bin Luhaiah Al Ansori. Pada hari ketiga, Nabi juga berkata demikian. Dan yang muncul, lagi-lagi ingan Saad bin Luhaiah Al Ansori.


Penasaran dengan hal tersebut, Abdullah bin Amru bin Ash lalu izin menginap tiga hari di rumah Saad bin Luhaiah Al Ansori. Dia ingin melihat keistimewaan amal Saad.
Namun selama tiga hari itu, Abdulloh melihat amalan Saad biasa-biasa saja. Bahkan dia tidak qiyamul lail. ’’ Di kalangan para sahabat, qiyamul lail itu menjadi tradisi yang diamalkan oleh hampir semua sahabat,’’ papar Kiai Jamal.


Pada hari ketiga, Abdullah berniat pulang. Dia pun bertanya langsung amalan utama Saad. Dengan jujur Saad menjawab bahwa amalnya memang tidak ada yang istimewa. ’’Satu-satunya yang selalu aku jaga hanyalah hatiku. Aku tidak pernah membiarkan hatiku berprasangka buruk atau punya unek-unek jelek kepada orang lain,’’ kata Saad. Mendengar itu Abdullah bin Amru bin Ash lalu berkata. ’’Yo iku sing abot, makanya pantas diganjar surga.’’


Itulah sebabnya, kita dianjurkan selalu berdoa dengan QS Al-Hasyr 10. Ya Allah,  janganlah Engkau membiarkan kedengkian terhadap orang-orang yang beriman (berada) dalam hati kami.

(Postingan Seorang Wartawan)

PINTER TAPI GAK LULUS

Saat sambutan dalam haul ke-3 Pengasuh Pesantren Luhur Malang, Prof DR KH Ahmad Muhdlor, di Pesantren Luhur Malang, Minggu, (6/11/2016), DR KH Imam Muslimin cerita tentang guru yang biasa disapanya Pak Haji tersebut. ’’Pak Haji ini termasuk guru sufi. Beliau sangat mengutamakan pendidikan karakter,’’ tuturnya.


Karakter sangat penting karena inilah yang mendominasi perilaku. ’’Yang korupsi itu bukan orang bodoh. Mereka orang-orang pinter. Profesor doktor. Tapi karakternya rusak. Ini salah satu kegagalan pendidikan kita,’’ tuturnya.


Makanya Abah Muhdlor tidak mau sekedar punya santri pinter. ’’Pak Haji ingin santri dan mahasiswanya menguasai tasawuf. Wilayah kerja tasawuf ini adalah menundukkan ego dan nafsu yang ada di hati,’’ jelasnya.


Selama belum bisa menundukkan nafsu, seorang santri belum bisa disebut berhasil. Makanya di pesantren, khidmah pada kiai didahulukan dari pada ngaji. Sebab untuk mau berkhidmah, santri harus menundukkan egonya. Contoh kecilnya adalah mencium tangan putra kiai yang usianya lebih muda. Jika ego masih berbicara, pasti tak akan mau. Padahal di taklimul mutaalim disebutkan bahwa salah satu tanda menghormati ilmu adalah menghormati keluarganya guru.


’’Pak Haji tidak ingin punya mahasiswa atau santri yang sombong karena kepintarannya. Makanya dibanting dulu. Dihancurkan dulu harga dirinya (agar tidak muncul ujubnya),’’ jelasnya.


Jika hati sudah bersih, maka ilmu dan kepintaran akan datang dengan sendirinya. ’’ Ilmu itu cahaya. Hati yang bersih juga memancarkan cahaya. Cahaya lebih mudah bersatu dengan cahaya,’’ jelasnya.


Kiai Imam cerita, dia  pernah ikut mata kuliah balaghoh yang diampu Kiai Muhdlor. Kelas itu diikuti 25 mahasiswa. Diantara mahasiswanya ada KH Marzuki Mustamar.  ’’Sejak dulu Kiai Marzuki itu pinter. Kiai Muhdlor mengakui Kiai Marzuki pinter, tapi tidak lulus,’’ tuturnya.


Dari 25 mahasiswa itu, yang lulus hanya dua orang. ’’Saya termasuk dua orang yang lulus,’’ kata Imam.
Padahal saat ujian, Imam tidak menjawab sesuai pertanyaan yang diajukan. ’’Di lembar jawaban saya tulis ayat kursi, Yasin, tahlil, manakib. Pokoknya semua yang saya hafal,’’ terangnya.

Tahu dia lulus padahal menjawab tidak sesuai pertanyaan, teman-temannya protes. ’’Pak Haji jawab enteng. Dilembar jawaban ada tulisan ayat kursi, siapa yang berani mengatakan ayat kursi itu salah?’’ ucap Imam menirukan jawaban Kiai Muhdlor yang membuat para mahasiswa klakep.

JIHAD TANPA EMOSI

Saat khutbah di Masjid Jami Al-Fattah, Nglundo Utara, Desa Candimulyo, Kecamatan/Kabupaten Jombang (18/11/2016), Pengasuh Pesantren Al-Madienah Denanyar KH Najib Muhammad menjelaskan tentang jihad. ’’Di Alquran, terdapat 41 ayat yang menjelaskan jihad,’’ tuturnya.


Namun secara umum, definisi jihad yakni segala upaya yang dilakukan secara sungguh-sungguh untuk mencari ridlo Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.


Secara garis besar, menurutnya jihad terbagi dua. Pertama, jihad fi sabilillah yakni dengan perang. Kedua, jihad fillah. Yakni jihad di semua jalan yang bisa mendatangkan ridlo Allah.


’’Jihad juga bisa dibagi dalam tiga kategori,’’ tuturnya.
Pertama yakni jihad besar. ’’Kata Nabi, jihad akbar adalah jihad melawan hawa nafsu,’’ tuturnya. ’’ QS Al-Alaq ayat 1 sampai 5 yang turun pertama, itu termasuk memerangi hawa nafsu,’’ tambahnya. Membaca dan menulis untuk memerangi kebodohan itu berat karena musuhnya adalah nafsu.  Perang dengan nafsu terjadi sepanjang masa. Makanya Nabi memerintahkan belajar sepanjang hidup.


Kedua, jihad fi sabilillah yang berupa perang. ’’Perang ini adalah upaya defensive ketika kita didzolimi,’’ jelasnya. Sebagaimana ayat pertama yang membolehkan perang yakni QS Al-Haj 39. Uzina lillazina yuqotiluna biannahum zulimu (telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya.)


’’Walaupun perang, tetap harus lillah, karena Allah. Tidak boleh karena emosi,’’ tandasnya.
Beliau lantas mencontohkan Sayydina Ali. Dalam perang khondaq, jago duel Qurais yang bernama Amr bin Abd Wad menantang Sayydina Ali. Awalnya Ali terdesak. Namun Ali berhasil membalik keadaan sehingga bisa menodong Amr dengan pedang. Dalam kondisi seperti itu, Amr meludahi Ali. Ali pun lantas melepaskannya. ’’Ketika ditanya kenapa demikian, Ali menjawab, sebelum diludahi, dia niat perang karena Allah. Namun setelah diludahi, dia emosi. Dia tak mau membunuh karena marah. Makanya dilepaskan,’’ tandasnya.


Ketiga, jihad dakwah. ’’Inipun terbagi tiga,’’ jelasnya. Sesuai hadist yang  menjelaskan tiga langkah merubah kemungkaran. Yakni dengan tangan, lisan dan dengan doa dalam hati.

(Postingan Seorang Wartawan)

METU TEKO NU SAMBER MBLEDEK

Saat ngaji dihadapan para mahasiswa IABAFA Sabtu (19/11/2016), Pengasuh PP Al-Muhibbin Bahrul Ulum Tambakberas,  KH Idris Jamal meminta para mahasiwa jadi sarjana yang santri. ’’Beberapa kali saya mengajak sowan santri tingkat akhir ke Romo KH Abdul Jalil Tulungagung, pesannya selalu sama, sekolaho setinggi apapun, sak kuate orang tua membiayai, tapi jangan tinggal kiai,’’ tuturnya.

Kiai Jamal, kata Gus Idris, juga selalu menyampaikan pesan yang sama dengan redaksi berbeda. ’’Kiai Jamal sering menyampaikan pesannya Mbah Wahab. Ojo metu teko NU. Metu teko NU, samber mbledek,’’ tegasnya.

Imam Abu Hasan As-Syadzili, juga menyampaikan pesan yang sama dengan redaksi berbeda. ’’Abu Hasan As-Syadzili berpesan, jika punya hajat, wasilahlah dengan Imam  Ghozali,’’ tuturnya.


Salah satu pendiri NU sekaligus Pendiri Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Asembagus Situbondo, yang menerima gelar pahlawan nasional 10 November 2016,  KH As’ad Syamsul Arifin, juga menyampaikan pesan yang sama. ’’ Santri Sukorejo yang keluar dari NU (Nahdlatul Ulama), jangan berharap berkumpul dengan saya di akhirat.’’

Semua pesan tersebut intinya sama. Yakni jangan meninggalkan kiai.

(Postingan Seorang Wartawan)

NAHI MUNKAR BIL MAKRUF

Saat ngaji dihadapan para mahasiswa IABAFA, Sabtu (19/11/2016), Pengasuh PP Al-Muhibbin Bahrul Ulum Tambakberas,  KH Idris Jamal, menjelaskan ciri khas dakwah NU. Sebagaimana dipraktekkan wali songo. Yang sekarang dikenal sebagai Islam Nusantara. ’’Amar makruf bil makruf. Nahi munkar bil makruf,’’ tuturnya.

Jadi mengajak kepada kebaikan dengan cara yang baik. Serta mencegah kemunkaran juga dengan cara yang baik.


Beliau lantas mencontohkan KH Maemun Zubaer. Suatu ketika ada santrinya matur. Di kampungnya ada kelompok anak muda yang suka mabuk-mabukan dan judi. Santri ini minta izin untuk membuyarkan. ’’Dengan kemampuan bela diri yang dimiliki, santri ini yakin bisa mengalahkan para pemuda tersebut. Namun sama Mbah Maemun tidak diizinkan,’’ tuturnya.


Santri ini justru diperintahkan mendirikan musola di kampung tersebut. Jika sudah ada musola, santri ini disuruh ngajar ngaji di musola itu. Disuruh ngajak anak-anak dikampung itu yasinan, tahlilan, istighotsahan, salawatan, manakiban, khataman.


Jika dikampung itu sudah ada pengajian dan rutinan-rutinan semacam itu, anak-anak yang suka mabuk dan judi tadi pasti berhenti. Minimal anak-anak mereka tidak akan ikut-ikutan jadi pemabuk dan penjudi.


Tentu saja. Cara seperti ini butuh waktu yang lama dan istiqomah. Beda dengan nahi munkar gaya pecahkan botol. Sekali banting, sudah langsung pecah.


Tapi buktinya, berapa banyak orang yang berhasil diislamkan melalui cara dakwah wali songo tersebut???
Dan berapa banyak orang yang berhasil diislamkan melalui strategi dakwah pecah botol???

(Postingan Seorang wartawan)

NGAJI KUDU WUDLU

Saat ngaji dihadapan para mahasiswa IAIBAFA Sabtu (19/11/2016), Pengasuh Pesantren Al-Muhibbin Bahrul Ulum Tambakberas mengingatkan agar guru maupun santri yang akan belajar atau ngaji harus punya wudlu. ’’Dalam kondisi apapun, Imam Maliki selalu wudlu sebelum belajar maupun mengajarkan ilmu,’’ kata KH Jamaludin Ahmad.

Sumber ilmu yakni Allah, itu suci. Dibawa malaikat jibril yang juga suci. Disampaikan kepada Nabi Muhammad yang juga suci. Sampai kepada para ulama yang juga suci.


’’Ulama itu ibarat paralon. Guru itu kran. Murid itu gelas. Semuanya harus suci. Tidak boleh teyeng (berkarat),’’ jelasnya.

 Kalau salah satunya berkarat, maka airnya jadi kotor. Ilmu, harus senantiasa dijaga agar suci.


Dalam taklimul mutaalim disebutkan bahwa orang yang punya wudlu itu bercahaya. Ilmu itu sendiri adalah  cahaya. Cahaya ditambah cahaya akan lebih mudah bersatu
(postingan seorang wartawan)