Selamat datang!! Silakan Anda mengutip semua artikel yang ada di kami tapi Anda harus menyertakan saya sebagai penulisnya

Senin, 08 Agustus 2016

Minat Baca, Kebiasaan yang Semakin Langka

Karena mengirim ke media nggak dimuat-muat, karena jelek atau nggak bermutu jadi saya posting di sini saja.


Oleh: Abdul Haris,S.Pd.I.

“Sudah selesai baca bukunya, nak?” tanya saya pada salah satu wartawan binaan saya?
“Sudah, Pak, ini resensi dan ringkasan yang bapak tugaskan!” jawab anak tersebut sambil menyerahkan dua lembar kertas.
Saya baca sekilas tulisannya, cukup memuaskan meskipun masih banyak kekurangan di sana-sini tapi ini adalah langkah awal untuk membantu anak didik saya menjadi kutu buku sebagaimana cita-cita saya selama ini.
Ilustrasi di atas adalah sekadar gambaran bahwa kita tidak boleh hanya menyalahkan sistem, kemiskinan, perkembangan teknologi serta pengaruh media sebagai biang kerok rendahnya minat baca di kalangan pelajar. Tanpa ada upaya dan menggerutu hanya akan menghabiskan energi. Perubahan yang digadang-gadang hanya akan menjadi angan-angan.

a.      Penyebab Rendahnya Minat Baca
Sebagaimana yang kita tahu membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Semakin banyak membaca, semakin banyak pula informasi yang kita dapatkan, walaupun terkadang informasi itu kita dapatkan secara tidak langsung.
Perkembangan teknologi multimedia di Indonesia, memberikan pengaruh besar minat membaca buku. Media tv, radio, internet dan telepon selular untuk mengakses informasi dan hiburan, secara perlahan menyingkirkan buku. Padahal buku berperan sebagai jendela informasi dunia yang mampu menstimulasi imajinasi serta melatih konsentrasi pembacanya. Selain itu, kurangnya persediaan buku-buku yang berkualitas baik serta harga buku yang mahal di Indonesia juga memberikan pengaruh buruk terhadap minat membaca masyarakat.
Memang, itulah yang kita temui sehari-hari, baik dilingkungan keluarga, masyarakat, dan parahnya kalangan pelajar mulai dari tingkat dasar hingga mahasiswa. Mereka lebih asyik dengan update status di berbagai media sosial (medsos) dan upload video yang sama sekali tidak ada manfaatnya.
Hal ini terjadi tentu bukan begitu saja tetapi ada pengantar yang berlangsung bertahun-tahun, dimulai dari lingkungan keluarga yang lebih mementingkan tradisi lisan dengan dongeng menjelang tidur daripada mereka disuruh untuk membaca buku cerita sehingga anak bisa berimajinasi sendiri.
Dilanjutkan di lingkungan masyarakat yang lebih mendukung tersajinya hiburan-hiburan bukannya membentuk komunitas membaca, kemudian ketika dilingkungan sekolah yang menciptakan iklim “asal dapat nilai”. Siswa lebih diarahkan menyelesaikan soal dengan menjawab singkat bukannya diarahkan untuk mencari jawaban ke perpustakaan. Lebih parahnya krisis keteladanan dari pendidik sendiri.
Sepanjang karir sebagai guru, sedikit sekali ketika ada waktu luang guru membaca buku atau bacaan lainnya. Mereka lebih suka ngobrol tak tentu arah. Ketika menjadi pengawas ulangan bukannya waktu ini digunakan untuk membaca buku atau materi lainnya tapi guru lebih sibuk dengan HP yang ada di genggaman.

b.     Manfaat Membaca
Berangkat dari keprihatinan inilah, maka perlu ditanamkan kesadaran kepada seluruh elemen masyarakat bahwa membaca adalah hal yang penting. Karena tentu bukan hal yang kebetulan jika Allah SWT. menurunkan wahyu pertama kepada Baginda Nabi Muhammad SAW adalah “Iqra” yaitu bacalah.
Bagi seorang siswa kegiatan membaca akan memberikan kepada mereka banyak manfaat yang akan diperoleh misalnya: (a) Dapat membantu program pemerintah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa; (b) Memenuhi kepentingan hidup, dengan membaca siswa akan memperoleh pengetahuan praktis yang berguna dalam kehidupan mereka sehari-hari; (c) Dapat meningkatkan prestasi belajar siswa; (d) Dengan gemar membaca, pelajaran yang sulit akan dapat kita atasi sehingga prestasi belajar meningkat; (e) Memperluas pengetahuan dengan berbagai bacaan yang beragam; (f) Dengan membaca kita dapat menambah wawasan seluas mungkin dan kita dapat membuka gerbang ilmu pengetahuan melaui membaca; (g) Meningkatkan minat siswa terhadap suatu bidang; (h) Mengetahui hal-hal yang aktual, dengan membaca siswa dapat mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar maupun di seluruh dunia yang mungkin berhubungan materi pelajaran, sehingga siswa dapat menerapkan dengan kehidupan nyata.
Mestinya dengan mengetahui berbagai manfaat ini akan mendorong pelajar untuk lebih mencintai buku daripada medsos atau tayangan tv yang lebih banyak madharatnya. Tugas pendidiklah yang memberikan pemahaman kepada anak didik mereka untuk mengetahui hal ini. Lebih penting lagi jika pendidik tidak hanya bicara di dalam kelas kemudian lepas tangan ketika di lingkungan luar. Sekali lagi keteladanan yang paling dibutuhkan.
Tentu tidak hanya tugas pendidik saja untuk mewujudkan minat baca bagi pelajar, seluruh lapisan masyarakat mempunyai kewajiban yang sama dengan selalu memberi motivasi dan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.

c.      Upaya Menumbuhkan Minat Baca
Masyarakat Indonesia memang belum banyak yang menyadari bahwa membaca merupakan hal pokok dalam kehidupan yang penuh pembelajaran. Oleh sebab itu kemampuan membaca menjadi hal paling utama yang harus mendapat perhatian dari banyak pihak terutama orangtua, orang-orang yang bergerak dalam kependidikan, masyarakat dan juga pemerintah.
Untuk itu perlu dilakukan upaya untuk membangun kegemaran dan kemampuan membaca masyarakat Indonesia pada umumnya dan siswa pada khususnya, diantaranya :
1.        Mereka ulang sistem pembelajaran di sekolah
Pembelajaran yang menantang dan menarik akan memunculkan minat baca siswa. Misalnya dengan memberikan suatu permasalahan yang pemecahannya ditugaskan kepada siswa dengan membuat makalah dan dipresentasikan di depan kelas.
Sekolah juga perlu membuat program membaca setiap pekan melalui pendekatan bahasa seperti “whole language” yaitu suatu pendekatan pengajaran bahasa secara utuh, dimana keterampilan menyimak, membaca, menulis dan berbicara diajarkan secara terpadu. Contoh kegiatan misalnya program membaca senyap selama 15 menit yang dilakukan oleh semua warga sekolah, lalu membuat jurnal, ringkasan atau hasil karya tentang isi acaan/buku yang telah dibaca yang selanjutnya dapat di pajang dan dikonteskan dalam bentuk tulisan atau pidato (presentasi), sehingga siswa termotivasi dalam membaca.
2.        Membudayakan cinta baca mulai dari keluarga
Sejak dini wajib sebuah keluarga yang ingin membangun minat baca dengan memberikan buku-buku yang menarik kepada anaknya yang masih kecil. Sesering mungkin mengajak mereka ke tempat-tempat belanja buku atau pameran, dan bisa sesekali memberikan reward ataskeberhasilananakdenganhadiahbuku.
Adanya perpustakaan keluarga juga sangat membantu bangkinya rangsangan akan rasa penasaran sang anak. Apalagi jika dibuat program wajib membaca dengan adanya jam wajib membaca tiap hari.

3.        Membatasi penggunaan media elektronik (TV, vidio game, handphone, internet).
Waktu menonton tv sebaiknya juga dibatasi, karena sebagaimana yang kita tahu banyak acara tv yang kurang bermanfaat selain itu juga menyita waktu sang anak untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
Sebagai siswa memang butuh dengan internet, tetapi penggunaan yang berlebihan juga mengakibatkan mereka akan malas membaca. Apalagi dengan adanya search engine “Mbah Google” sepintas memang memberikan kemudahan yang luar biasa, namun kenyataannya pengetahuan yang serba instan menjadikan siswa lebih mengandalkan sumber google daripada mencarinya diliteratur-literatur media cetak. Sangat disayangkan!

d.     Upaya Lainnya
Seorang pengamat pendidikan Darmaningtyas mengatakan sejumlah negara mewajibkan anak didiknya untuk membaca buku. Di Thailand Selatan misalnya. Murid SMA di Negeri Gajah Putih itu wajib membaca minimal lima buku. Sementara itu, Malaysia dan Singapura minimal enam buku. Di Brunei Darussalam minimal tujuhbuku, Rusia 12 buku, Kanada 13 buku, Jepang 15 buku, Swiss 15 buku, Jerman 22 buku, Prancis 30 buku, Belanda 30 buku, danAmerikaSerikat 32 buku. Namun, dalam Kurikulum 2013 tidak ada ketentuan yang mewajibkan murid SMP dan SMA harus membaca sejumlah buku.
Bertolak dari keprihatinan inilah sehingga saya sebagai pendidik tergerak untuk memunculkan minat baca siswa di lingkungan sekolah. Sebagai pembina majalah 2 sekolah saya selalu menekankan kepada para wartawan bahwa berita maupun artikel bahkan karya sastra bisa dihasilkan dengan bagus jika pengarang sering membaca. Karena dengan membaca bisa memperbanyak perbendaharaan kata atau ilmu.
Setiap bulannya mereka saya wajibkan untuk datang ke rumah meminjam buku diperpustakaan pribadi saya dan selanjutnya saya memberi tugas sebagaimana ilustrasi di awal tulisan ini.
Bahkan, meskipun saya tidak mengajar Bahasa Indonesi seringkali saya membawa sekardus buku dari rumah untuk dipinjamkan ketika saya masuk untuk mengajar. Buktinya langkah saya ini bisa membangkitkan minat siswa untuk membaca. 
Jika Thomas Alfa Edison mengatakan, “Kesuksesan itu 1 persen bakat 99 persen kerja keras” maka tak salah jika saya mengatakan, “Minat baca itu 1 persen musibah 99 persen berkah”! Menurut Anda?

Rabu, 09 Maret 2016

Ketukan Hati dari Penerus Kita


Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan (Q.S. 19:59)

Ayat di atas adalah gambaran generasi kita sekarang dan di masa yang akan datang. Generasi yang jauh dari Allah SWT. Rentan penyimpangan dan kerusakan serta gemar menuruti nafsu syahwat. Berbagai persoalan bisa dijadikan parameter sehingga menjadi generasi yang demikian. Namun, untuk artikel berikut penulis hanya berfokus pada aspek pendidikan yang merupakan pilar utama pembentuk generasi penerus.
Sebagaimana diketahui dan kini ramai jadi pembicaraan adalah kepanikan lembaga pendidikan  dan pusingnya mereka menghadapi kondisi seperti serkarang ini. Karena banyak sekali masyarakat yang menuding bahwa yang bertanggung jawab atas kerusakan generasi kita hanya pendidik (guru)/lembaga pendidikan yang salah menerapkan kurikulum dan hilangnya aspek keikhlasan dalam mengelola dunia pendidikan.
Pemerintah berupaya begitu keras agar pendidikan berhasil mengeluarkan produk yang unggul dan berakhlak mulia. Kurikulumpun diubah, materi ada yang dihapus dan ada yang ditambah. Trilyunan rupiah dianggarkan demi terwujudnya sebuah harapan generasi idaman bangsa dan agama. Pakar pendidikan berteriak pendidikan berkarakter. Tak ayal kurikulum pendidikan berbasis karakterpun digagas. Namun entah kenapa yang terjadi pada generasi kita, kemerosotan akhlak semakin tajam bahkan sudah di atas ambang batas. Naudzubillah...
Bahkan kalau kita melihat berita di surat kabar, menurut hasil survey KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) didapatkan bahwa 62,7% remaja pernah melakukan zina, 21% diantaranya telah melakukan aborsi. Innalillah...
Dari data di atas kita sebagai orangtua jangan menganggap bahwa kerusakan moral remaja seperti itu dianggap sebagai penghalalan bahkan pembenaran tren zaman. Sebagai orangtua kita harus khawatir dan cepat mengambil langkah antisipatif sebelum lebih jauh merembet dan merusak mentalitas moral dan spiritual putra-putri kita.

Pendidikan Akhlak Suatu Keniscayaan
Manusia tanpa akhlak yang mulia tentu tak ada bedanya dengan binatang. Tak punya etika, tak punya tata aturan sehingga hawa nafsu yang diperturutkan.
Menilik tugas Rasul SAW sebagaimana sabda beliau yang berbunyi: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”  maka beliau adalah prototipe pertama bagi kalangan pendidikan dalam menjalankan tugasnya dalam mentransfer nilai-nilai pengetahuan dan spritual bagi anak didik.
Nyatanya kini di Indonesia khususnya dan dunia umumnya nilai-nilai spiritual dianggap materi yang terpisah dengan pengetahuan keduniaan. Berbanding terbalik dengan sejarah Islam pada masa kejayaannya dulu yang tidak ada upaya sekularisasi antara ilmu agama dan ilmu umum.
Akibatnya tidak usah heran jika yang melakukan tindak korupsi justru mereka-mereka yang berpendidikan tinggi, kecerdasannya di atas rata-rata. Karena pendidikan yang ditempuh selama ini hanya sebagai media transfer pengetahuan, miskin akhlak, nihil etika.
Dari segi inilah kita mesti memberikan respek pada upaya pemerintah dan tokoh-tokoh pendidikan yang concern dengan masa depan generasi bangsa untuk memadukan semua materi dengan pendidikan karakter. Tentu hasil itu tidak serta merta menjadi tampak sekarang. Butuh waktu sekian tahun untuk memetik hasilnya.
Jika sekarang putra-putri kita begitu memprihatinkan dalam menjaga nilai-nilai akhlak yang mulia, tidak usah pesimis yang ditampakkan karena upaya itu masih berjalan. Senyampang upaya itu masih terus berproses alangkah lebih baiknya kita-kita yang lebih dulu memberikan tauladan. Bukankah pembelajaran lewat tauladan lebih efektif dari hanya sekedar kata-kata?

Ketika Orangtua Sangsi dengan Pendidikan Berbasis Agama
Menanamkan akidah dan akhlak pada anak dalam bi’ah (lingkungan) yang sehat dan kondusif adalah satu-satunya langkah yang musti dilakukan untuk mengantisipasi lahirnya generasi buruk sebagaimana yang disampaikan Allah SWT dalam ayat di atas. Sungguh, terbentuknya jiwa dan karakter seseorang sangat ditentukan oleh kondisi bi’ah sekitarnya. Seorang anak yang dididik dalam bi’ah yang sehat akan membentuk pribadi yang positif atau sebaliknya. Bi’ah yang memungkinkan membentuk jiwa yang rabbani, salah satunya adalah pendidikan/sekolah berbasis agama.
Bisa kita bayangkan perbedaannya, ketika anak-anak kita yang sedang semangat-semangatnya mengaji, mendalami ilmu agama Islam atau lagi asyik-asyiknya mengikuti kegiatan spiritual untuk generasi idaman. Tapi disaat yang sama teman-teman sebayanya sedang asyik menghabiskan rupiah orangtuanya untuk paketan game online (Playstation), nongkrong di warnet tanpa pengawasan, berpacaran yang tidak sehat atau yang berbau kemaksiatan. Tentu yang sejuk dipandang mata dan menetramkan hati adalah kejadian yang pertama.
Nyatanya masih banyak diantara kita yang secara tidak sadar telah menjerumuskan putra-putri kita ke jurang kehancuran dengan hanya berkata-kata tanpa pernah memberi tauladan yang berharga. Padahal tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya menjadi beban pada saat pertanggungjawaban di akhirat kelak. Semua orangtua pasti menginginkan anaknya menjadi syafaat bagi dirinya.
Sangat disayangkan jika sebagian orangtua ada yang sangsi bahkan trauma jika anaknya disuruh mengaji/mendalami ilmu agama. Mereka beranggapan kalau anaknya sehabis sekolah masih harus belajar agama/ngaji lagi, maka nilai sekolahnya akan jatuh. Mereka berdalih bahwa meskipun mereka mengaji belum tentu berhati dan berakhlak baik.
Tentu, sangatlah tidak arif jika kita mencap bahwa gara-gara belajar ilmu agama anak-anak tidak bisa sukses dalam hal dunianya.
Mesti dipahami oleh setiap muslim khususnya orangtua bahwa tujuan pendidikan yang diusung Al-Qur’an adalah bagaimana membimbing manusia agar mempunyai ilmu, yakni ilmu yang membuat manusia takut pada Allah SWT, sebagaimana yang tertuang pada ayat berikut:
Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Q.S. Fathir, 35:28)

Tugas Kita Sebagai Orangtua
Kepada orangtua, marilah kita merenung dan berpikir sejenak. Lihatlah generasi muda yang akan meneruskan estafet kepemimpinan negeri ini, bagaimana jika meninggalkan salat dan mengikuti hawa nafsu itu menjadi sesuatu yang biasa dan dianggap wajar?
Rasulullah SAW. Bersabda: “Bahwa ikatan-ikatan Islam akan terburai satu demi satu. Setiap kali satu ikatan terburai, orang-orang bergantungan pada ikatan selanjutnya. Yang terakhir  kali terburai adalah salat (H.R. Ahmad)
Hadis di atas dengan gamblang menjelaskan bahwa putusnya tali Islam yang terakhir  adalah salat. Selama salat masih ditegakkan oleh umat Islam berarti masih ada tali dalam Islam. Sebalik kalau salat sudah tidak ditegakkan maka putuslah Islam secara keseluruhan karena salat adalah tali yang terakhir.
Maka tak mengherankan kalau Allah SWT. menyebut “adhous sholah” (menyia-nyiakan/meninggalkan sholat) dalam ayat tersebut diucapkan pada urutan yang lebih dulu dibandingkan “attaba’us syahawat” (menuruti syahwat), sekalipun tingkah menuruti syahwat itu sudah merupakan puncak kebejatan moral manusia.
Dengan demikian bisa kita pahami bahwa betapa tingginya kejelekan orang yang meninggalkan salat karena puncak kebejatan moral yaitu menuruti syahwatpun masih berada diurutan setelah meninggalkan salat. Tiada perkataan yang lebih benar daripada perkataan Allah SWT dan RasulNya.
Allah SWT. dan RasulNya sangat mengecam orang yang meninggalkan salat dan menuruti syahwat. Maka dari itu marilah kita jaga diri kita juga putra-putri dari kebiasaan yang jelas-jelas dikecam oleh Allah SWT. dan Rasulnya terebut.
Mudah-mudahan kita serta generasi penerus kita tidak termasuk mereka yang akan binasa akibat pelanggaran yang amat besar yaitu meninggalkan salat dan menuruti syahwat. Maka tidak perlu disanksikan lagi bahwa pendidikan agama kalau kita pahami dan kita dalami akan membawa kita ke jalan yang Insya Allah  diridhai Allah SWT dan menjadikan negeri Indonesia “Baldatun Toyyibatun Warobbun Ghofur”. Insya Allah. Amin Ya Robbal Alamin. Wallahu a’lam bishawwab.

*) Guru dan Pemimpin Redaksi
Majalah Sekolah “KAMUS”
MTs. MA. Al-Musthofa Canggu Jetis Mojokerto
Beralamat di: www.catatansangguru.blogspot.com

Setelah Sertifikasi, What’s Next?


Prolog
Hari Ahad, tanggal 15 Desember 2013 selesai sudah masa karantina saya sebagai salah satu peserta Pendidikan dan Latihan Pendidikan Guru (PLPG) yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) UIN Sunan Ampel.
Karena banyaknya janji-janji pemerintahlah sehingga kami semua semangat untuk mengikuti setiap materi yang disampaikan oleh dosen. Kepenatan yang saya rasakan serta suka-duka menghadapi tugas yang bejibun dalam tenggat waktu yang singkat tak menyurutkan semangat saya dan teman-teman untuk menyelesaikannya. Karena di pelupuk mata kami nampak sebuah lembar sertifikat dan kartu NRG yang menjadi syarat sah untuk mendapatkan tunjangan profesi. Ya, begitu pragmatisnya pemikiran kami sebab bagi guru seperti kami yang selalu berkutat utang apalagi yang kami kejar selain uang.
Kini, setelah beberapa bulan saya menyelesaikan PLPG tersebut disaat menanti turunnya SK pengesahan, rupa-rupanya tujuan pragmatis yang sempat mampir dalam benak saya adalah tujuan yang sebagian besar tersemat pada rekan-rekan seprofesi. Dengan melihat peristiwa-peristiwa sekitar dari rekan sesama guru yang sudah menerima tunjanganlah sehingga saya mengambil kesimpulan tersebut. Uraian berikut adalah pembuktian tesis saya.

Tujuan Pemerintah
Begitu mulianya tujuan pemerintah untuk memajukan kehidupan bangsa dengan meningkatkan kualitas pendidikan dari segi guru dan kesejahteraannya. Untuk meningkatkan kualitas guru dengan karakteristik yang dinilai kompeten maka salah satu caranya adalah dengan sertifikasi.
Peningkatan mutu guru lewat program sertifikasi ini sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan. Rasionalnya adalah apabila kompetensi guru bagus yang diikuti dengan kesejahteraan yang bagus, diharapkan kinerjanya juga bagus. Apabila kinerjanya juga bagus maka KBM-nya juga bagus. KBM yang bagus diharapkan dapat membuahkan pendidikan yang bermutu.
Maka dikeluarkanlah Undang-undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003 sebagai salah satu upaya untuk mengatur agar pendidikan di Indonesia semakin maju. Karena tidak mungkin pendidikan maju jika tenaga pendidiknya tidak maju maka pemerintah mengeluarkan Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen yang menyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dalam tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
Pernyataan ‘profesional’ mengindikasikan bahwa seorang guru harus benar-benar menjalankan tugas sebagaimana diamanatkan oleh undang-undang. Karena merupakan tuntutan tentu saja pemerintah tidak tinggal diam dengan tuntutannya ini maka keluarlah sebagian dari anggaran 20% APBN untuk memberikan imbal balik berupa tunjangan profesi.
Untuk mencapai ‘profesional’ ada banyak syarat yang memang harus dipenuhi guru. Tentu saja ini merupakan hal yang lumrah sebagaimana tujuan, jalan mencapai tujuan juga harus ditempuh. Jika syarat-syarat ini terpenuhi keluarlah bukti keprofesionalan berupa sertifikat pendidik sebagai syarat akhir seorang guru untuk mendapatkan tunjangan.
Jalan yang paling mudah menurut saya adalah jalur portofolio. Sebab dengan jalur ini seorang guru cukup mengumpulkan pengalaman-pengalaman selama menjadi guru dengan bukti fisiknya. Jika jumlah nilai minimal 850 dari portofolio terpenuhi, maka guru sudah berhak mendapatkan sertifikat pendidik dari LPTK penyelenggara sertifikasi guru.
Jalan agak sulit setelah guru tidak mampu memenuhi penilaian portofolio dia harus mengikuti PLPG selama 90 jam. Pelatihan yang diadakan selama seminggu ini, setiap peserta mengikuti jadwal pelatihan yang begitu ketat dengan menyelesaikan tugas dalam tempo yang singkat. Materi-materi yang disampaikan tentu saja semua hal yang berkaitan dengan dunia pendidikan yakni pedagogik, profesional, spiritual, dan sosial lebih-lebih lagi yang berkaitan dengan teknologi. Sebab sebagaimana sudah maklum teknologi dalam hal ini komputer merupakan hal yang wajib dikuasai oleh guru.
Jalan menyusahkan dan lebih rumit serta menghabiskan banyak waktu, biaya, dan tenaga adalah dengan jalur PPG (Program Profesi Guru). Bagaimana tidak, hanya demi selembar kertas yang bernama sertifikat seorang guru yang mengikuti PPG harus mengikuti perkuliahan selama 2 semester (1 tahun) dengan bobot antara 32 s.d. 40 sks. Bandingkan dengan jalur portofolio yang hanya bermodal kertas berharga, jalur PLPG yang bermodal tenaga dan ‘sedikit’ pikiran. Tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa guru hasil dari PPG memang benar-benar guru yang profesional. Mengapa demikian? Uraian berikut sedikit banyak akan menjawabnya.

Keprihatinan
Sebagaimana yang sudah saya ungkapkan di atas pelaksanaan program sertifikasi tujuan dasarnya adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Karena dengan meningkatnya kualitas pendidikan, maka akan dapat pula mendongkrak kualitas pendidikan bangsa Indonesia saat ini.
Kenyataannya program sertifikasi khususnya jalur portofolio justru memunculkan sosok guru yang Certificate-Oriented. Ternyata implementasi sertifikasi guru dalam bentuk penilaian portofolio ini kemudian menimbulkan polemik baru. Banyak para pengamat pendidikan yang menyangsikan keefektifan pelaksanaan sertifikasi dalam rangka meningkatkan kinerja guru. Bahkan ada yang berhipotesis bahwa sertifikasi dalam bentuk penilaian portofolio tak akan berdampak sama sekali terhadap peningkatan kinerja guru, apalagi dikaitkan dengan peningkatan mutu pendidikan nasional. Hal ini berkaitan dengan temuan-temuan dilapangan bahwa adanya indikasi kecurangan dalam melengkapi berkas portofolio oleh para guru peserta sertifikasi.
Tentu Anda masih ingat beberapa tahun yang lalu ketika portofolio mulai diadakan. Banyak bermunculan acara seminar, diklat, atau yang sejenisnya diadakan oleh berbagai lembaga yang merasa berkompeten menyelenggarakannya. Guru kreatif, guru teladan, dosen pendidikan bahkan hingga profesor laris manis mengisi acara. Padahal kenyataannya acara diselenggarakan asal-asalan sebab memang bukan ilmu yang menjadi tujuan melainkan sertifikat atau piagam bukti keikutsertaanlah yang diinginkan.
Cara seperti ini masih lumayan sebab memang acaranya benar-benar ada lebih memprihatinkan lagi, banyak sekali penawaran (penjualan) sertifikat dengan harga variatif tanpa pernah mereka mengikutinya. Sertifikat palsupun bertebaran.
Yang mengikuti PLPG-pun tidak ketinggalan. Memang, diklat ini benar-benar ada, justru pelaksanaannya yang perlu mendapat sorotan. Saya yang menjadi peserta PLPG merasakan benar betapa memang program pemerintah sulit sekali menuai keberhasilannya hanya karena oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Dosen-dosen yang tidak sejalan dengan kehendak pemerintah atas pemberlakuan kurikulum 2013 berani terang-terangan menentang di hadapan kami sebagai peserta. Ada dosen yang asal comot karena tidak menguasai materi gampang saja memberikan tugas pada kami tanpa pernah memberikan pengarahan yang sebenarnya. Mudah-mudahan hanya saya saja yang mengalami demikian.
Sedangkan para peserta lebih memprihatinkan lagi. Banyak yang berangkat tanpa orientasi yang jelas. Mengikuti pelatihan dengan ogah-ogahan, berusaha menghindari tugas yang dibebankan. Hampir sama dengan para murid, gembira sekali jika dosen hanya bercerita pengalaman hidupnya tanpa sama sekali memberikan tugas.

Solusi
Sertifikasi dengan jalur portofolio memang sangat diragukan keampuhannya untuk meningkatkan kompetensi guru. Maka, pemerintah harus mengadakan tindak lanjut agar program yang begitu mulia tidak menjadi program yang sia-sia. Sebab di sana-sini masih banyak guru yag telah lolos sertifikasi tapi sekedar menyalakan laptop saja tidak bisa. Membuat RPP masih mengandalkan download internet atau kadang membeli paket jadi yang tinggal mengganti nama saja (sekolah, kepala sekolah, dan guru bersangkutan).
Meningkatkan suguhan up grading bisa menjadi salah satu langkahnya. Up Grading yang saya maksud berupa peningkatan-peningkatan kualitas guru dipelbagai kompetensi. Up Grading ini dapat berupa Kegiatan-kegiatan training, penataran, workshop, dan apapun istilah lainnya. Cara ini dapat mengubah rahasia umum para guru, bahwa yang dapat menikmati suguhan Up Grading tersebut hanyalah segelintir dari mereka.
Yang telah lulus jalur PLPG-pun masih banyak kekurangan yang harus dibenahi. Jangan dikira setelah mengikuti PLPG habis perkara. Masih banyak kekurangan yang harus dibenahi. Sebab yang jamak terjadi di Indonesia, kegiatan semacam PLPG – bisa seminar, diklat, kursus – yang  diharapkan untuk bisa memacu kemajuan, menumbuhkan kreatifitas, mengembangkan inovasi mandeg pada pemenuhan kewajiban atau istilah lainnya hanya sebagai formalitas.
Saya sangat berharap setiap triwulan, atau persemester atau paling tidak setiap setahun sekali ada semacam ujian ulang dengan passing grade tiap tahun ditingkatkan. Sehingga guru sertifikasi tetap terpacu untuk meningkatkan kemampuannya.


Epilog
Sebelum saya akhiri tulisan ini, maaf jika ada kesalahan dalam bertutur, bukan bermaksud meng"generalisasi". Saya hanya berharap adanya sertifikasi tidak serta merta mengurangi keikhlasan para guru untuk menularkan ilmunya. Sebab, saya yakin masih banyak guru yang memang benar-benar ikhlas mengajar walau tanpa disertifikasi, dan masih banyak guru yang walaupun sudah tua namun masih bersemangat untuk belajar memperbaiki kekurangan diri demi kemajuan sekolahnya.
Sertifikasi bukan segalanya, sebab kemajuan pendidikan di Indonesia begitu komplek permasalahannya. Hanya, saya mengajak kepada semua rekan guru untuk selalu instropeksi. Sejauhmana telah melaksanakan tugas kependidikan. Seberapa banyak kekurangan yang belum tertutupi dan tidak pernah lelah untuk meningkatkan kemampuan agar bisa mengikuti perkembangan zaman. Jangan sampai status guru sertifikasi disandang tetapi sering tidak mampu kebutuhan peserta didik. Semoga, para guru benar-benar menjadi Pahlawan tanpa tanda jasa.
Barangsiapa mau menjadi guru,
biarkan dia memulai mengajar dirinya sendiri 
sebelum mengajar orang lain,
dan biarkan dia mengajar dengan teladan,
    sebelum mengajar dengan kata-kata....
” (Chairil Anwar)

*) Pengajar di MTs. MA. Al-Musthofa Canggu
Jetis Mojokerto
Alumni PLPG angkatan 33
Mempunyai alamat di

www.catatansangguru.blogspot.com

Selasa, 28 Juli 2015

Pakar NASA ini masuk Islam pasca sembunyikan fakta Lailatul Qadar



Ramadhan sudah berlalu, idul fitri-pun sudah 2 minggu berlalu, tapi aku masih menyesali betapa sedikitnya ibadah yang aku lakukan selama Ramadhan kemarin. Akhirnya Ramadhan berlalu tapi aku tidak mendapatkan Lailatul Qodar. Semakin menyesal ketika aku membuka sebuah situs menjelaskan Lailatul Qodar berikut:

BANDUNG (Arrahmah.com) – Subanallah ternyata banyak yang disembunyikan oleh orang-orang barat tentang kehebatan Islam yang ditunjukan dalam bentuk kejadian alam di dunia ini.

Kepala Lembaga Mukjizat Ilmiah Al-Quran dan Sunnah di Mesir, Dr. Abdul Basith As-Sayyid menegaskan bahwa, Badan Nasional Antariksa Amerika (NASA) telah menyembunyikan kepada dunia bukti empiris ilmiah tentang (malam) Lailatul Qadar. Demikian dilansir BIP, Ahad (5/7/2015).

Ia menyayangkan kelompok jutawan Arab yang kurang perhatian dengan masalah ini sehingga dunia tidak mengetahuinya. Menurutnya, sesuai dengan hadits Nabi bahwa malam Lailatul Qadar adalah “baljah” (بَلْجَة); tingkat suhunya sedang), tidak ada bintang atau meteor jatuh ke (atmosfer) bumi, dan pagi harinya matahari keluar dengan tanpa radiasi cahaya.”

Sayyid menegaskan, terbukti secara ilmiah bahwa setiap hari (hari-hari biasa) ada 10 bintang dan 20 ribu meteor yang jatuh ke atmosfer bumi, kecuali Lailatul Qadr dimana tidak ada radiasi cahaya sekalipun.

Hal ini sudah pernah ditemukan Badan Antariksa NASA 10 tahun lalu. Namun mereka enggan mempublikasikannya dengan alasan agar non Muslim tidak tertarik masuk Islam.

Statemen ini mengutip ucapan seorang pakar di NASA bernama Carner, seperti yang dikutip oleh harian Al-Wafd Mesir.

Hal tersebut dikemukakan Abdul Basith Sayyid, Kepala Lembaga Mukjizat Ilmiah Al-Quran dan Sunnah di Mesir, serta Dr. Abdul Basith As-Sayyid juga mendukung hal tersebut dalam sebuah program di TV Mesir.

Sayyid juga menegaskan, pakar Carner akhirnya masuk Islam dan harus kehilangan jabatannya di NASA.

Ini bukan pertama kalinya, NASA mendapatkan kritikan dari pakar Islam. Pakar geologi Islam Zaglol Najjar pernah menegaskan, NASA pernah menghilangkan satu halaman di situs resminya yang pernah dipublikasikan selama 21 hari. Halaman itu berisi hasil ilmiah tentang cahaya aneh yang tidak terbatas dari Ka’bah di Baitullah ke Baitul Makmur di langit.

Sayyid menegaskan, “jendela” yang berada di langit itu mirip yang disebutkan dalam Al-Quran.

وَلَوْ فَتْحنَا عَلَيْهِمْ بَابًا مِنْ السَّمَاء فَظَلُّوا فِيهِ يَعْرُجُونَ لَقَالُوا إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارنَا بَلْ نَحْنُ قَوْم مَسْحُورُونَ

“Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya. tentulah mereka berkata: “Se sungguhnya panda ngan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang orang yang kena sihir”.” (Al-Hijr: 14)

Saat itu Carner menyaksikan dengan bukti jelas bahwa jagat raya saat itu gelap setelah “jendela” itu tersibak. Karenanya, setelah itu Carner mendeklarasikan keislamannya.


Sunnah mencium Hajar Aswad

Setelah Carner masuk Islam, ia menafsirkan fenomena “mencium Hajar Aswad” atau mengisyaratkan kepadanya – seperti penjelasan Abdul Basith Sayyid – bahwa batu itu merekam semua orang mengisyaratkan kepadanya (dengan lambaian tangan) atau menciumnya. Carner juga mengungkapkan tentang sebagian potongan Hajar Aswad yang pernah dicuri. Setelah 12 tahun diteliti, seorang pakar museum Inggris menegaskan bahwa batu tersebut memang bukan dari planet tata surya Matahari.

Carner, pakar Inggris itu kemudian melihat sample Hajar Aswad sebesar biji (kacang) hims. Ia menemukan bahwa batu itu melancarkan gelombang pendek sebanyak 20 radiasi yang tidak terlihat ke segala arah. Setiap radiasi menembus 10 ribu kaki. Carner menambahkan, batu itu mampu mencatat nama-nama orang yang berhaji dengan radiasi gelombangnya. Sebagaimana, tegas Sayyid Abdul Basith, Imam Syafi’i menyatakan bahwa Hajar Aswad mencatat nama setiap orang yang mengunjunginya baik dalam haji atau umroh sekali saja. (adibahasan/arrahmah.com)