Selamat datang!! Silakan Anda mengutip semua artikel yang ada di kami tapi Anda harus menyertakan saya sebagai penulisnya

Kamis, 09 Oktober 2014

Soal UTS Ganjil

Assalamu'alaiku anak-anak, kali ini Pak Haris memberikan soal UTS untuk semester ganjil 2014 diselesaikan secepatnya ya jangan lupa untuk membuat email sendiri dan kirimkan jawabannya ke email saya.


Selasa, 24 Juni 2014

membuat Lagu

Bisa menyanyi itu anugrah apalagi kalau vokalnya merdu. lebih anugrah  lagi (wah kalimat apa ini ya?) kalau bisa menyanyi sekaligus mecipta lagu.
nah, saya bukan kategori yang bisa menyanyi, tapi kalau mencipta bisalah kalau sedikit-sedikit.
Kemarin ada teman guru yang jadi kepala sekolah rupanya tertarik dengan lagu-laguku yang ada di sholawat dan ia berminat untuk membuat lagu Mars untuk sekolahnya. Ia menyuruh saya untuk meciptakan lagunya. Wuih lumayan nih ada yang respek sama laguku juga. nah dengan sekuat tenaga, peluh yang berlelehan, darah yang membanjir (berlebihan ya?) aku meciptakan lagu tersebut. Dan
Dueeennnggg! jadilah lagu tersebut ditampilkan pertama kali pada acara perpisahan di sekolah tersebut.
nah kalau sedikit mau peduli coba deh download laguku tersebut dan silakan mendengarkan. Komentarnyanya ya biar memuji atau menghina nggak papa wong namanya komentar bebas dong!
1. Mars Nurul Huda vokal koor
2. Mars Nurul Huda Vokalku

Rabu, 26 Februari 2014

Desain Lagi




Beberapa Desain yang Telah Kuhasilkan

Lomba Mewarnai

 Lomba Mewarnai 2

Launching Album Sholawat

Map penerimaan Peserta Didik Baru MI. Al-Musthofa

Selasa, 25 Februari 2014

Kisah Nyata Hakim yang Menangis

Sungguh ini suatu kejadian yang langka dan luput dari kita semua. Semoga setelah membaca kisah berikut, Anda bisa menjadi pribadi yang mulia dan mencontoh nilai-nilai yang dilakukan oleh sang Hakim. Terima kasih Pak Hakim engkau merupakan calon penghuni syurga. Insya Allah.
--------


Diruang sidang pengadilan, hakim Marzuki duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU terhadap seorang nenek yang dituduh mencuri singkong, nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, cucunya kelaparan ...
Namun manajer PT X** ( Y ** grup ) tetap pada tuntutannya, agar menjadi contoh bagi warga lainnya.
Hakim Marzuki menghela nafas., dia memutus diluar tuntutan jaksa PU, 'maafkan saya', katanya sambil memandang nenek itu,.
“Saya tidak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi anda harus dihukum. saya mendenda anda 1jt rupiah dan jika anda tidak mampu membayar maka anda harus masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan jaksa PU.”
Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam, sementara hakim Marzuki mencopot topi , membuka dompetnya kemudian mengambil & memasukkan uang sejumlah 1jt rupiah ke dalam topi tersebut dan berkata kepada hadirin...

"Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang hadir diruang sidang ini sebesar 50rb rupiah, sebab menetap dikota ini, yang membiarkan seseorang kelaparan sampai harus mencuri untuk memberi makan cucunya....”
" Sdr panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi saya ini lalu berikan semua hasilnya kepada terdakwa."
Sampai palu diketuk dan hakim Marzuki meninggalkan ruang sidang, nenek itupun pergi dengan mengantongi uang 3,5jt rupiah...
Termasuk uang 50rb yg dibayarkan oleh manajer PT X *** yang tersipu malu karena telah menuntutnya.
Sungguh sayang kisahnya luput dari pers.
Kisah ini sungguh menarik sekiranya ada teman yang bisa mendapatkan dokumentasi kisah ini bisa di share di media untuk jadi contoh kepada aparat penegak hukum lain agar bekerja menggunakan hati nurani dan mencontoh hakim Marzuki yang berhati mulia.
Semoga dapat menjadikan teladan bagi kita semua.

Kamis, 06 Februari 2014

Rebana Banjari dalam Kepungan Zaman



Dimuat di Radar Mojokerto Minggu, 26 Januari 2014
Oleh: Abdul Haris

Di sela-sela kesibukan yang semakin menyita waktu kita, menyeruduk kasar dentingan jam sehingga menghabiskan kesempatan kita untuk sekedar merenung dan menikmati kedamaian hidup terdengar sayup-sayup sampai ketukan ritmis dari lima alat musik yang terbuat dari kayu dan kulit lembu.
Suara sayup-sayup itu perlahan menohok kesadaran kita ternyata masih ada di jaman yang penuh selimut maksiat ini dengan berbagai alat musik yang begitu memesona suatu alat yang kuno tapi masih punya ribuan penggemar.
Sadarlah kita musik ini tidak bisa dipandang remeh. Apalagi jika Anda masih mau menyempatkan waktu untuk mendatangi penampilan Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf dengan suara emasnya. Tak mungkin Anda tidak terbelalak menyaksikan betapa ribuan manusia dengan baju, songkok, dan sarung putih tumpah ruah memadati area yang telah disediakan. Lebih kerennya lagi mereka tidak hanya sekedar datang tapi larut dalam lantunan shalawat dan tergabung dalam fans club Syekher Mania, tak kalah menterengnya dengan slankers (penggemar band Slank), ataupun Sonetamania (penikmat lagu Soneta group).
Tak peduli dengan lalu lalang kendaraan roda dua bahkan roda duabelas. Tak hirau akan guntur membahana di singgasana langit dengan ribuan titik air yang berkejaran turun membasahi tubuh. Mereka terus memunajatkan doa shalawat. Membuat merinding karena dengungan suara itu bagai air bah yang siap merobohkan kokohnya kesombongan kita.
Begitulah, hadirnya musik rebana banjari kini telah mulai menelusup ke setiap pori-pori tubuh kita. Suka atau tidak setiap hari telinga kita harus terbiasa mendengarkan berbagai variasi ketukan rebana. Ada yang murni dengan hanya lima alat musik saja dan itu sudah cukup membuat syahdu. Ada yang ditingkahi berbagai alat musik modern dan rebana banjari tetap menjadi bumbu penyedapnya.

Sejarah Rebana Banjari
Kita mungkin telah berkali-kali menyaksikan penampilan rebana banjari di berbagai even, festival, atau hajatan nikah, khitan dan lain sebagainya. Tapi saya yakin masih banyak yang kurang memahami sebenarnya berasal darimanakah banjari itu?
Rebana banjari merupakan salah satu dari jenis pukulan hadrah yang pertama kali diperkenalkan oleh sufi besar dari Konya, Turki, Jalaluddin er-Rumi. Hadrah digunakan oleh Jalaluddin sebagai salah satu media untuk mengagungkan asma Allah SWT. dan manifestasi kecintaan terhadap Rasulullah SAW.
Sebagaimana diketahui agama Islam yang tersebar di Indonesia adalah bercorak Sufi, maka tak ayal seni hadrah mengikutinya. Di Indonesia hadrah mempunyai corak masing-masing sesuai daerahnya. Ada hadrah madura, hadrah basaudan, hadrah langitan, hadrah ishari dan tak ketinggalan hadrah banjari.
Seni terbang banjari adalah sebuah seni khas islami yang berasal dari Kalimantan. Tentu ini masih ada keterkaitan dengan penyebaran agama Islam oleh Sunan Kalijaga di Jawa. Hadrah banjari  merupakan jenis musik rebana yang berasal dari Timur Tengah yang mengalami penyesuaian dengan berbagai alat tradisional dan modern di Indonesia. Kini tak usah heran jika Anda menyaksikan pertunjukan yang didasari banjari ditambah alat musik seperti jidor, gamelan, atau bahkan dikombinasikan dengan alat modern seperti keyboard, drum, gitar dan sebagainya.
Keunikan musik rebana termasuk banjari adalah hanya terdapat satu alat musik yaitu rebana yang dimainkan dengan cara dipukul secara langsung oleh tangan pemain tanpa menggunakan alat pemukul. Musik ini dapat dimainkan oleh siapapun untuk mengiringi nyanyian dzikir atau sholawat yang bertemakan pesan-pesan agama dan juga pesan-pesan sosial budaya. Umumnya menggunakan bahasa Arab, tapi belakangan banyak yang mengadopsi bahasa lokal untuk kesenian ini.
Dengan komposisi satu rebana Bass dan empat rebana terbang, Banjari mempunyai keunikan yang sederhana yaitu pada saat memainkannya, dimana setiap pukulan pemain yang satu berbeda dengan pukulan pemain yang lain namun saling melengkapi sehingga menjadi suara yang harmonis. Pukulan inipun bisa dibagi menjadi dua macam yakni Pukulan Nikahiatau kadang disebut dengan pukulan lanangan dan Pukulan Nganaki atau pukulan wedokan. Karena berbagai daerah punya kreatifitas sendiri maka semakin banyak variasi pukulan banjari. Hasilnya semakin rancak dan dinamis.

Perkembangan Banjari
Banjari, bisa dibilang paling konsisten dan paling banyak diminati oleh kalangan santri pondok pesantren menjalar ke sekolah-sekolah berlabel Islam, bahkan saat ini di beberapa kampus mulai ikut menyemarakkan jenis musik ini. Dari sekedar pukulan empat rebana dan satu rebana bass kini dikawinkan dengan harmonis dengan berbagai jenis alat musik baik tradisional maupun modern.
Semakin banyak pula lagu-lagu yang bisa dimainkan dan diselaraskan dengannya. Yang lebih membanggakan kawula muda sekarang sudah tidak malu-malu lagi jika menjadi salah satu fans group sholawat banjari karena memang lagu-lagu yang dilantunkan begitu menyentuh kalbu. Bahkan kadang sukses membuat airmata pendengar mengalir karena teringat akan dosa.
Di Mojokerto sendiri banyak bermunculan berbagai macam group sholawat banjari mulai dari tingkat TPQ/Madin sampai instansi-instansi pemerintah tak ragu lagi merogoh kocek membiayai kemunculan group sholawat banjari. Sekolahpun tak ketinggalan ekstra sholawat banjari menjadi ekstra favorit seperti yang terjadi di sekolah saya kemarin (MI. MTs. MA. Al-Musthofa Canggu) resmi diluncurkan group sholawat banjari bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Dan, saya yakin group ini bukanlah satun-satunya group banjari yang ada di sekolah. Banyak bertebaran di berbagai sekolahan group banjari yang begitu memesona penampilan mereka. Ini terlihat jika ada festival yang diadakan di manapun peserta dari Mojokerto saling bersaing untuk menjadi penampil yang terbaik.

Renungan
Di tengah kepungan jaman yang serba konsumtif dan permisif seperti sekarang ini, kabar yang saya sampaikan di atas merupakan kabar yang menggembirakan sekaligus melegakan. Betapa tidak kebanyakan lagu zaman sekarang lebih meninabobokan pemuda untuk cenderung berbuat maksiat, hura-hura.
Ketika mereka hadir melihat pertunjukan musik tak bisa terhindarkan gesekan antar penonton yang berujung dengan perkelahian bahkan ada yang sampai melayangnya nyawa. Bukankah ini perlu menjadi keprihatinan kita.
Maka marilah kita sambut kehadiran kembali musik tradisional yang sempat dipandang sebelah mata ini. Jadikan keterampilan bermain musik banjari menjadi kebanggaan negeri. Tidak ada ruginya menggemari musik banjari. Yang ada kenyamanan hati, kenikmatan surgawi mengalahkan kenikmatan duniawi. Hidup di dunia ini apalagi kalau bukan kenyaman hati dan kenikmatan iman yang ingin kita cecap.


Abdul Haris
Pengajar di MTs.MA. Al-Musthofa Canggu
Pimpinan Group Sholawat Banjari & Modern “Al-Musthofa”
Telah meluncurkan 2 album sholawat bertajuk
“Ya Robbana” & “Qod Asyroqo” 
Tinggal di PMB Blok CH-07 Canggu Jetis