Selamat datang!! Silakan Anda mengutip semua artikel yang ada di kami tapi Anda harus menyertakan saya sebagai penulisnya

Sabtu, 08 Oktober 2011

PATUNG GURU


 
Dulu sekali, di perempatan Desa Canggu sebelah barat gerbang Puri Mojo Baru, jika orang dari timur di sebelah kiri jalan pasti bisa melihat seonggok patung laki-laki dengan posisi duduk termenung menatap nanar ke bawah. Jika mau bersusah payah sedikit melihat dari bawah patung tersebut, terlihatlah sorot matanya yang tajam penuh keoptimisan. Tak banyak yang mengetahui riwayat didirikannya patung tersebut, tapi yang pasti semua orang tahu nama patung itu adalah Patung Guru.
Seperti lazimnya pada setiap patung, di bawah patung tersebut tertulis, “Untuk Pak Sodron, perintis pendidikan Desa Canggu yang kami cintai, pembuka cahaya, pendobrak kebodohan, pelopor pembangunan,” hanya itu yang tertulis.
Menurut cerita yang beredar, beliaulah yang pertama kali menjejakkan kakinya menetapkan dirinya sebagai pengajar desa yang waktu itu seratus persen penduduknya buta huruf. Tidak mengherankan sebab keadaaan waktu itu tidaklah seramai sekarang, bisa makan saja sudah keuntungan tiada tara.
Maka ketika Pak Sodron mengajak anak-anak kecil berkumpul di rumahnya diajari mengeja coretan-coretan di sebuah papan kayu lapuk, banyaklah orang menentangnya. Sebab bagi penduduk daripada duduk berteriak membaca sesuatu yang aneh lebih baiklah kaki-kaki anaknya berlepotan lumpur sawah menanam padi, mencabut rumput atau yang sejenisnya.
Anak dan orang tua tak bisalah disamakan. Semakin mereka dilarang semakin kuat pemberontakan. Sebab Pak Sodron menarik bagi mereka, mengajak mereka bermain, memberi mereka makanan, bercerita hal-hal yang belum pernah terbayangkan.
Orang tua tak habis akal, anak pun dilarang ke luar rumah, maka sepilah rumah Pak Sodron sebab tak ada anak kecil yang mampir.
Cibiran, hinaan, serta pertentangan tak menyurutkan nyalinya. Orang tuapun didekati, diajari cara bercocok tanam yang benar agar bisa menghasilkan yang lebih banyak. Sekali lagi tentangan yang didapat.
Namun, penduduk tak habis pikir ketika jagung serta padi yang ditanam Pak Sodron rimbun buahnya. Maka berbondonglah mereka tanpa sungkan minta diajari bagaimana bisa mendapatkan hasil yang banyak dengan cara yang mudah.
Hati penduduk telah teraih, seiring dengan itu anak-anakpun tak dilarang lagi ke rumah Pak Sodron. Sebab selain diajari membaca anak-anak mereka juga dibekali keterampilan yang belum pernah ada.
Maka tumbuhlah Desa Canggu menjadi desa maju dengan segala jenis kerajinan dan hasil pertanian yang unggul. Madrasah Ibtidaiyah pertama didirikan, dengan gedung sederhana hasil patungan warga. Pak Sodron menjadi Kepala, anak didiknya yang pintar dijadikan guru juga.
Hari tak pernah berhenti, minggu berjalan, bulan mengumpul, tahun berganti, Madrasah Tsanawiyah didirikan jua, sebentar kemudian Madrasah Aliyah berdiri megah. Pak Sodron tetap menjadi kepalanya. Anak didiknya telah banyak yang menjadi pengusaha, atau pegawai pemerintah.
Dihari mangkatnya berkumpullah semua murid yang pernah dibinanya. Mereka bersepakat mendirikan patung yang didedikasikan kepada Pak Sodron. Tak berapa lama muncullah wajah baru Desa canggu di perempatan jalan tersebut seonggok patung berlapis emas.
Setiap Hari Pendidikan Nasional para siswa berkumpul menuju Patung Guru, meletakkan karangan bunga dan kemudian menyanyikan lagu himne guru. Pada mulanya sedikit, lambat laun semakin banyak pula yang datang ke situ.
Beberapa puluh tahun telah berlalu kebiasaan itu mulai menyurut, banyak anak didik langsung Pak Sodron meninggalkan dunia. Seiring dengan itu semakin banyak pula yang tidak mengerti mengapa Patung Guru itu teronggok di situ.
Patung Guru semakin dilupakan, kemegahannya semakin suram, karangan bunga berganti menjadi daun ilalang tak beraturan. Sedangkan jalan semakin diperlebar hampir-hampir mengikis tempat Patung Guru berdiam. Tak tahan dengan itu, banyak pula yang mengusulkan agar patung itu dirobohkan saja diganti dengan patung yang lebih modern.
Dipanas terik, terlihat seekor burung Pipit berteduh di bawah Patung Guru.
“Uh, alangkah panasnya,” keluhnya sedangkan di sekelilingnya tak ada kendaraan yang melintas. Lama dia berdiri di situ hingga terkantuk-kantuk. Tiba-tiba terasa kepalanya dijatuhi air, titik kesatu tak dihiraukannya, menyusul titik kedua ... titik ketiga ... titik ke empat.
“Aneh, sepanas ini, langit tak berawan kok mulai hujan!”
Karena titik hujan itu tak jua berhenti menengadahlah si burung, keheranannya bertambah besar ketika tahu ternyata air itu bukan dari hujan melainkan keluar dari mata patung. Melihat hal ini burung Pipit terbang dan hinggap di bahu patung.
“Kau menangis, patung?” bisiknya penuh iba.
“Seperti yang kau lihat, aku menangis..!”
“...???”
“Sudah beberapa hari ini tapi tidak terus menerus.”
“Mengapa kau menangis?,” tanya Pipit. “Apa karena murid-murid sekolah sudah tidak datang lagi menyanyikan Himne Guru dan memberi karangan bunga padamu?”
“Bukan, bukan karena itu, tapi karena tekanan batin.”
“Ah, kau mengada-ada kukira selama ini kau paling bahagia, pada waktu-waktu tertentu orang meletakkan karangan bunga di kakimu, anak-anak menyanyi untukmu, tapi memang kayaknya akhir-akhir ini kebiasaan itu sudah tak ada lagi.”
“Sudah kukatakan tadi bukan karena itu,” bantah patung.
“Lalu...?”tanya Pipit mengambang.
“Kalau aku boleh bercerita, kau pasti akan tahu?” pinta patung.
“Boleh saja.”
“Dari ketinggian tempatku duduk ini semakin hari kesedihanku semakin banyak.”
“Mengapa?” tanya Pipit rupanya mulai tertarik.
“Dulu, waktu aku membina anak didikku kuinginkan desa ini maju dan terpelajar. Semua itu tercapai, dan kini kulihat hasilnya. Tapi anak sekarang tak memahami arti pendidikan, jika kau mau bersabar malam nanti kau pasti akan melihatnya.”
“Maaf, aku buru-buru patung, aku lapar sebenarnya aku mau mencari makan tadi. Sekarang hari sudah sore, agaknya aku harus melanjutkan perjalananku. Padi menguning menantiku di utara sana.”
“Tunggu dulu, kamu bisa makan padi yang berserak di jalan itu. Tadi pagi ada orang membawa padi yang terjatuh. Aku rasa itu cukup untuk mengganjal perutmu. Dan yang pati aku akan butuh bantuanmu”
***
Surya menyembunyikan diri, titik-titik cahaya bermunculan di cakrawala. Sang Candra muncul malu-malu di timur.
“Sebentar lagi, kau akan menyaksikan salah satu penyebab sedihku. Lihat di timur”
Pipit tak menjawab, tatap matanya mengarah ke timur. Sebentar kemudian muncullah berkelompok-kelompok remaja mengambil tempatnya masing-masing di remang-remang. Berasyik masyuk. Pipit menghela nafas. Sesak dadanya.
“Itu belum seberapa sekarang terbanglah ke timur sana.”
Pipit langsung terbang alangkah terkejutnya ia, sebab di sepanjang jalan dilihatnya beberapa pemuda pemudi yang bersembunyi bercengkrama, berbuat mesum.
“Aku paham, mengapa kau sampai sesedih ini,” kata Pipit ketika kembali ke patung.
“Itulah, mengapa aku menderita tekanan batin. Mereka yang masih sekolah bukannya menekuri buku tetapi malah berleha-leha seakan hidup mereka nanti mudah adanya.”
Sebentar kemudian melintaslah beberapa gadis. Mereka tak saling bicara, sebab di tangan masing-masing tergenggam blackbarry.
Terdengar isak tangis patung, “Kau lihat sendiri benda itulah yang telah merenggut anak muda sekarang dari meja belajarnya. Uang mereka lebih penting dipakai beli pulsa daripada buku. Miris hatiku Pipit.”
Pipit menghela nafas, “Terus apa yang bisa aku bantu, aku hanya seekor burung.”
“Bersabarlah, bukan bantuan itu yang aku inginkan, kau lihat tubuhku dilapisi emas.”
“Terus kenapa?”
“Kau kupas dengan paruhmu sedikit, terus kau antar kepada orang-orang yang memerlukan, nun jauh di sana, bertebaran di berbagai tempat.”
“Mengapa aku harus menuruti katamu?” bantah Pipit.
“Sebab selain yang kau lihat tadi masih banyak anak-anak yang sungguh-sungguh belajar dengan keterbatasan.”
“Huh, mana kuat paruhku, lagipula padi yang kumakan sore tadi tak cukup membuat tenagaku pulih. Perjalananku masih jauh...”
“Tenang Pipit, kekuatanmu akan muncul dengan sendirinya jika kau gunakan untuk berbuat kebaikan. Lebih-lebih jika kau lakukan dengan gembira dan ikhlas.”
“Baiklah akan kucoba.”
“Kau ikhlas, kan?”
“Sudahlah, jangan persoalkan keikhlasan itu yang penting aku mau melakukannya. Sekarang sebutkan untuk siapa kulit emasmu harus kuantar?”
“Kau mulai dari wanita yang termenung di depan penjual ronde di selatan itu?”
“Apa yang terjadi padanya?”
“Dia sedang bingung. Ibunya sakit keras di Kebumen. Ongkos untuk pulang tak di kantongnya. Sebab gaji sebagai guru di SD tak cukuplah untuk membawanya kembali ke Ibunya. Apalagi nanti di sana dia akan menanggung biaya rumah sakit. Dia mencintai ibunya dan dia mencintai murid-muridnya. Nah berikan sobekan pertama padanya agar gembiralah hatinya.”
“Lalu kepada siapa lagi?”
“Berikan pada pria yang membawa kantong plastik itu.”
“Pemulung itukah?”
“Ya, dia juga sedang bingung, sebab istrinya mau melahirkan dengan operasi caesar, anaknya sudah empat. Penghasilannya sebagai pemulung tak mungkinlah untuk oper....”
“Siapa lagi?” potong Pipit mulai jemu ia mendengar cerita sedih seperti ini. Mengapa pula ia peduli nasib manusia yang selama ini tidak terlalu manis terhadap kaumnya.
“Kau lihat itu!” sambung patung, “Lelaki berkopyah, ia guru ngaji. Mempunyai 10 anak asuh. Mereka sekarang mau semester. Harus membayar administrasi ke sekolah SMP Negeri yang katanya gratis. Dia ada uang tapi anaknya sendiri merengek minta buku pelajaran dan pengetahuan. Dia sayang anak asuhnya tapi juga sayang anaknya yang suka membaca.”
“Siapa lagi sesudah ini?”
“Pemuda, yang sekarang pasti sedang menangis di makam KH. Musthofa. Tiap malam dia selalu lewat sini. Dari cerita temannya aku tahu pemuda ini ingin kuliah di IAIN Suan Ampel. Dia bintang kelas. Hanya beasiswa yang bisa menolongnya. Berilah ia kulit emas ini. Pasti akan dipakainya membeli buku. Makannya sudah dikurangi tetapi buku masih belum terbeli juga. Aku yakin dia pasti lolos seleksi jika banyak membaca buku...”
“Begini patung, ingatanku tak cukup kuat mengingat semua orang yang kau sebutkan. Kau ulangi saja satu persatu setiap aku selesai mengelupas emas itu dari tubuhmu.”
“Baiklah, mulailah.”
“Sebaiknya dari mana aku mulai?”
“Sebaiknya dari kaki terus ke atas.!”
Demikianlah, burung Pipit mulai bekerja menguliti patung, kemudian menerbangkan ke orang yang harus menerimanya. Berulang-ulang mondar-mandir dengan hanya sedikit istirahat. Selama beberapa hari siang dan malam. Padi yang tertumpah sudahlah habis dimakannya. Kini badannya lemah lunglai. Nafasnya terengah-engah kepayahan. Paruhnya agak menumpul, bulunya hampir habis.
“Wahai patung sahabatku, aku tak sanggup lagi.!”
“Teruskan, teruskan wahai Pipit. Masih ada beberapa orang lagi. Mereka akan tertolong asal saja kau mau mengambil emas di di mataku.”
“Maaf, patung aku tak sanggup melakukan itu. Tak tega aku membuatmu nanti jadi buta.”
“Beranikan dirimu, tekan perasaanmu. Lagipula buat apa aku bisa melihat jika kebobrokan dan kesusahan semata. Sedang aku hanya duduk di sini bertopang dagu.”
“Apa berbuat baik harus mengorbankan segalanya?”
“Mengapa tidak, kalau yang dengan penuh ikhlas dan kepastian yang diberikannya itu bermanfaat?”
“Aku tidak setuju, pokoknya aku tak mau!”
Sementara patung dan Pipit berdebat melintaslah seorang anak tak sengaja menengadah ke arah Patung Guru. Alangkah terkejutnya si anak melihat Patung Guru tak lagi berkilau hanya warna hitam kehijauan. Tak sedap dipandang mata. Dia kemudian berlari dan berteriak,
“Patung Guru sudah jelek, emasnya sudah terkelupas, Patung Guru seperti hantu!”
Teriakan ini didengar semua orang. Berkumpullah mereka setelah dari mulut ke mulut tersebar berita ini. Maka seluruh penduduk bergerombol di hadapan Patung Guru tanpa dikomando.
Seorang pemuda ganteng tampil di muka dan berkata:
“Bagaimana Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, Patung Guru tak berwibawa lagi, bagaimana kalau kita merobohkan dan menggantinya dengan bangunan yang lebih bermanfaat.”
Semua orang saling berpandangan. Setelah silang pendapat selesai maka diambillah keputusan bulat bahwa Patung Guru harus dirobohkan esok harinya. Sebab hari sudah senja. Semua yang hadir bersorak. Semua kejadian itu disaksikan oleh Pipit dengan perasaan geram, heran, sedih, gundah...
“Gila, edan!” gerutunya “Justru sekarang mestinya mereka bangga padamu, memujamu! Lebih dari kakek nenek mereka yang membangun kamu!” ini semua akibat kesalahanku. Kalau aku tak menuruti kamu, tak akan begini jadinya.”
“Sudahlah Pipit, tak usah kau menggerutu. Yang penting teruskan pekerjaanmu. Tahu sendirikan besok aku dirobohkan.”
“Supaya kau jadi buta? Tidak!”
“Tak ada waktu berdebat. Segera cungkil mataku, gadis di seberang sana akan berputus asa jika segera tak kau beri emas ini. Jika ia tak berangkat sekarang hilanglah kesempatan ia menjadi dosen, sebab besok dia akan di interview rektor.”
Pipit tak membantah lagi. Dengan memejamkan mata dan sisa tenaga dibadannya, tercungkil juga emas itu dan diantar langsung ke gadis dimaksud. Sekembalinya tenaganya rasanya telah lenyap. Sambil bersandar di kaki patung, “Patung aku sudah tak kuat lagi, emasmu juga sudah tak ada, ujung kekuatanku telah sampai.”
“Sambil istirahat, dengarkan uraianku. Dekat sekali di tenggara sekitar limaratus meter dari sini, ada seorang guru yang mempunyai perpustakaan pribadi. Tak henti-hentinya dia menyuruh muridnya untuk membaca segala buku. Mereka di suruh ke perpustakaannya jika tak punya uang beli buku. Namun tak ada satupun muridnya yang mengindahkannya. Sebab SMS telah merajai, TV telah menguasai, musik telah jadi gaya hidup. Tapi tak bosan jua ia untuk mengajak.”
“Lalu apa hubungannya dengan tugasku, aku tak kuat lagi...” Pipit menyela.
“Malam ini pasti dia sedang menulis, sebab dia memimpin majalah sekolah. Dia tahu sekali murid-muridnya tak ada yang mau membaca majalahnya. Tapi dia tak pernah hirau, baginya majalah itulah yang akan menjadikan pemikirannya terabadikan. Ke sanalah, ambillah di bawah kakiku bunga mawar. Antarkan, aku yakin sekuntum bunga ini akan menjadikannya terhibur di tengah kegelisahan memikirkan muridnya yang tak penah bersahabat dengan buku!”
“Antarkan, aku kagum padanya tak banyak guru yang seideal itu, sebab banyak guru juga yang hanya mengajar tapi tak pernah menyentuh buku, sehingga ajarannya kadang ketinggalan zaman. Ingin muridnya belajar tapi diri mereka sendiri malah berhenti membaca.”

“Baiklah aku mengerti maksudmu.” Sejurus kemudian Pipit telah mengambil mawar. Sebelum berangkat patung bicara lagi.
“Yakinlah Pipit, meski bunga itu sudah kau berikan pada si Guru itu tapi wanginya pasti masih melekat di paruhmu.”
Beberapa menit kemudian Pipit kembali, paruhnya masih wangi. Tetapi tubuhnya kelihatan betul-betul payah.
“Wahai patung sahabatku,” bisiknya dengan suara lemah, lemah sekali, selemah jasadnya, “kini betul-betul selamat tinggal.”
“Karena patung tidak segera menjawab, “Selamat tinggal!” ulangnya lagi. Kemudian ia melayang....
“”Selamat jalan Pipit, semoga kau bertemu teman-temanmu, dan padi yang menguning. Terima kasih. Jasamu akan kukenang selama-lamanya.” Patung Guru mengira Pipit melayang terbang ke angkasa. Ia tak dapat melihat bahwa Pipit itu melayang ke bawah. Jatuhnya terjerembab tepat di bawah kaki patung. Pipit mati kehabisan tenaga. Habis dipakai membantu sahabatnya yang sedih dan tertekan batinnya. Melihat sekelilingnya yang bobrok dan menyedihkan.
Begitu matahari terbit, serombongan pekerja beramai-ramai membongkar Patung Guru, tiba-tiba diantara mereka melihat jasad Pipit.
“Lihat ada bangkai Pipit, menjijikkan, sama menjijikkan dengan patung ini.”
Maka robohlah Patung Guru yang dulu membanggakan, satu bulan kemudian. Berdiri dengan megah, Tugu PKK. Rupanya ini yang dimaksud pemuda dengan bangunan yang lebih bermanfaat.
Sedangkan Patung Guru segera dilebur di pabrik logam dan dionggokkan bersama logam-logam lain.
***
Berkata Malaikat Jibril,
“Ya Allah, telah tiba di sini seekor Pipit bersama segumpal logam tembaga.”
Allah Swt. Menjawab:
“Mereka memang kupanggil. Jangan biarkan mereka menunggu lama. Bawa mereka cepat padaku. Telah kusediakan untuk mereka tempat yang layak di sisiKu!”***

*)Guru  MTs. MA. Al-Musthofa
Canggu – Jetis - Mojokerto
Dimuat di Radar Mojokerto (Jawa Pos Group)
Minggu, 14 Agustus 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar