Selamat datang!! Silakan Anda mengutip semua artikel yang ada di kami tapi Anda harus menyertakan saya sebagai penulisnya

Sabtu, 08 Oktober 2011

Apa Kabar, Jo?



07 Agustus 2011
Untuk Paijo
di tempat kerja.
Assalamu’alaikum, Jo.
Mungkin kau terkejut Jo kedatangan suratku ini begitu tiba-tiba tanpa permisi menyusup diantara di tumpukan kertas kerja dimejamu. Tapi, bukankah memang surat itu tak punya sopan-santun untuk masuk kantor? Atau mungkin juga surat ini akan menyita waktu kerjamu, maaf jika memang begitu. Tetapi hati ini tak tahan untuk memberi kabar kepadamu setelah hampir tiga bulan pertemuan kita kemarin.
Aku harap kamu tidak melupakan pertemuan kita untuk yang pertama kalinya setelah kita hampir lima tahun berpisah. Wah, ternyata kita memang telah berpisah selama lima tahun, Jo. Begitu singkat jika kita hitung sejak pertemuan kita tetapi tentu saja lama jika kita menghitungnya sejak kamu berpamitan untuk mengejar cita-citamu yang sudah lama kau idamkan.
Duh, mungkin aku tak layak mengirimimu surat ditengah kesibukanmu yang bejibun, tetapi ijinkanlah aku memberikan kabar kepadamu, Jo, bahwa bantuan yang telah kau berikan kepadaku kemarin sudah aku gunakan sebaik mungkin. Terima kasih yang tak terhingga aku haturkan kepadamu sebab dengan dengan uang 20 juta yang kau berikan kemarin begitu banyak yang telah aku lakukan. Nanti saja aku jelaskan penggunaanya.
Ah, Paijo kawanku, semenjak aku bertemu denganmu kemarin sering aku mematut diri ini di depan kaca. Bagaimana tidak jika aku mengingat baju yang kukenakan waktu itu jauh sekali dibandingkan dengan stelan jas yang kau kenakan. Aduh rasanya aku ini belum berpakaian ya. Aku yakin bahan kain yang kau kenakan pasti mahal sekali. Sedangkan bajuku waktu itu hanyalah jatah baju dari sekolah lima tahun yang lalu yang tentu saja sudah lusuh, kagumnya aku Jo, kau tak sungkan-sungkan memelukku tanpa risih sedikitpun Ah, Jo, ternyata kau belum berubah.
Aku ingat lima tahun lalu ketika kau bertekad untuk meninggalkan profesi guru untuk mengikuti pamanmu yang jadi pengusaha di Jakarta, pakaianmu begitu kumal, dua potong celana tiga helai hem yang kau masukkan tas tidak ada yang lain. Ternyata tekadmu untuk tidak jadi guru lagi dan jadi pengusaha sukses sudah benar-benar bisa kamu wujudkan sekarang! Kalau aku? Aduh jangan ditanyakan begitu aku jadi malu sebab sampai sekarang aku seperti yang dulu Jo, rumah masih belum keramik, genteng masih banyak yang tambal sulam, sedangkan gajiku, aduh maaf Jo, aku semakin malu nanti jika nanti kusebutkan nominalnya. Tapi untunglah masih ada sepetak sawah yang kugarap sehingga hidupku masih bisa tertolong darinya.
 Aku juga kagum padamu Jo, dengan mobil Mercy yang kau bawa kemarin, wow! Sebegitu hebatnya kau sehingga kau sudah mampu membeli mobil yang mahal itu. Jangan mungkir Jo, benar khan mobil itu memang mahal? Sebab aku pernah baca sebuah buku “Ganti Hati” karangan Dahlan Iskan mobil Mercy seri S 500 tahun 2005 saja harganya 3 milyar. Sedangkan milik kamu kemarin khan keluaran 2010. waduh barapa ya harganya? Hebat, hebat Jo. Makanya ketika kamu tanya naik apa aku kemarin ke acara seminar tersebut, kubilang saja aku naik angkot, sebab aku malu Jo, sebab aku naik motor yang bisa dibilang rongsokan. Bagaimana tidak motorku kan keluaran tahun ’75 Jo. Meski begitu aku masih patut bersyukur sebab dengan motor butut itulah aku bisa sampai sekolah tiap hari walaupun tak jarang motor itu ngadat di tengah jalan. Sepeda motor itu Jo, sampai pernah copot knalpotnya sehingga memekakkan telinga pengguna jalan lain. Malu? Tentu saja Jo tapi nggak apalah yang penting sepeda motor itu masih bisa jalan. Memalukan, ya?
Jo, semenjak kau pergi aku membina TPQ yang telah kau tinggalkan. Dengan tertatih-tatih aku mendorong santriwan-santriwati. Awalnya berat memang, makanya aku maklum ketika kau tak kuat lagi membina mereka dengan honor yang seikhlasnya sedangkan tiap hari perutmu tak mau kompromi. Aku maklum bahkan sangat maklum jika kamu ingin merubah nasibmu. Dan kini sudah terbukti bahwa pilihanmu tidak salah. Sampai kini aku masih terseok-seok membina mereka. Dalam hati sebetulnya aku ingin meninggalkan mereka tetapi entahlah nurani ini selalu melarangku. Apalagi istriku yang dengan setia memberi support. Duh, kalau ingat istriku Jo aku jadi malu lagi. Sebab selama ini istrikulah yang mencukupi segala kebutuhan keluarga. Istriku memang wanita perkasa, Jo. Bagaimana tidak setiap jam tiga istriku sudah bangun untuk belanja ke pasar. Sebab dia buka warung kecil-kecilan. Dari warung itulah istriku membantu perjuanganku. Aku yakin istrimu juga demikian bukan, nggak usah di jawab sebab dengan keberhasilanmu saat ini siapa lagi yang akan jadi pendukung kalau bukan istri, ya tidak, Jo?
Kalau boleh bertanya, masihkah kau terkenang dengan kejadian ketika kau masih guru dulu, Jo? Yah misalnya dicium tanganmu setiap kamu bertemu murid, murid-murid yang menyebalkan, disapa santrimu ketika kau pulang mengajar, atau gajimu yang habis sebelum tanggal lima belas? Aku minta jangan sampai lupa ya? meski kenangan itu remeh tapi tak tahulah Jo, kejadian-kejadian seperti itu yang selalu memberiku semangat untuk selalu meneruskan perjuangan yang berat ini. Tapi tanpa kuminta kamupun nggak akan melupakannya, bukan? Sebab kutahu salah satu alasan kamu pergi ke Jakarta dulu khan karena gaji yang sedikit itu. Yah, memang itulah Jo kau pintar mencari kesempatan sehingga kau jadi yang sekarang.
Oh, ya, Jo, mumpung aku masih ingat, aku dapat titipan salam dari orang tuamu, mereka bilang sudah kangen sama kamu. Aku salut padamu, Jo kau sangat berbakti kepada mereka. Sebab rumah ortumu kini sudah begitu megahnya. Hampir aku terkaget-kaget dibuatnya. Entahlah ketika sehari setelah aku bertemu kamu aku koq jadi kepingin silaturrahim kepada mereka. Ternyata rumah itu berubah semuanya atas biaya darimu ya, masya  Allah, Jo aku jadi iri dengan baktimu itu. Tapi kata ortumu mereka minta hari raya tahun ini kamu sempatkan ke rumah mereka, sebab kamu sudah tiga tahun tidak menjenguk mereka. Ya aku bilang saja mungkin karena kamu sangat sibuk mengurus perusahaan sehingga tidak sempat berkunjung, bukan begitu, Jo?
Yang paling penting dari surat ini adalah memberi tahu kamu kalau uang yang kamu sumbangkan kemarin sudah aku pergunakan sesuai dengan keinginanmu. 10 juta semuanya kupakai untuk membeli alat-alat musik untuk grup sholawat yang kudirikan. Permintaanmu untuk menempeli bass drum dengan merk jamu produksimu sudah aku tulis sebaik mungkin. Sedangkan yang 5 juta aku gunakan untuk mengganti atap gedung TPQ sebab sudah beberapa bulan ini sudah banyak atap yang bocor. Sedangkan yang 5 juta lagi kugunakan untuk mengadakan pengajian sesuai dengan saranmu kemarin. Dan atas permintaanmu pula papan nama TPQ di sudut kanan bawahnya kutulis agak besar bahwa renovasi gedung TPQ atas bantuan perusahaanmu. Sekali lagi kuucapkan banyak terima kasih, Jo sebab dengan bantuanmu program kegiatan yang telah kucanangkan beberapa tahun belakangan bisa berjalan dengan baik. Kalau tidak dari kamu tak tahu lagi harus kemana aku minta bantuan. Inilah enaknya punya kawan yang pengusaha sukses. He...he...he...
Terakhir kali sebelum aku mengakhiri surat ini, aku minta do’a restumu sebab tahun ini aku akan berangkat ke Tanah Suci bersama istri. Nggak usah heran Jo, lha wong aku bisa berangkat itu kan karena tabungan dari hasil sepetak sawah tadi, alhamdulillah koq hasil panennya selalu melimpah sehingga aku sisihkan untuk menabung haji. Kamu sudah haji khan? Syukurlah kalau sudah, kalau belum bagaimana kalau bareng sama aku saja biar kita bisa ketemu di Mekkah nanti.
Baiklah Jo, mungkin surat ini sudah terlalu panjang, rasanya aku akan sangat mengganggumu nanti. Jadi sekali lagi maaf kalau waktu kerjamu tersita gara-gara suratku.

Wassalamu’alaikum, Jo!
Dari kawan Lamamu



SODRON

Kulipat surat dari teman lamaku, Sodron. Tak terasa air mata ini menitik melihat baris per baris, kalimat- per kalimat huruf-huruf yang telah dirangkai Sodron sehingga menjadi kabar yang menyejukkan sekaligus membuat dada sesak.
Sodron, masih juga anak itu tidak berubah, lima tahun kuberpisah dengannya tapi rasanya masih kemarin dia kutinggalkan. Kesederhanaannya, keikhlasannya, ketulusan hatinya seperti tak akan pernah lungsur dari jiwa dan raganya.
Tiap paragraf kubaca surat ini seakan penuh dengan makna yang dalam dan aku tak bisa mengerti sebenarnya terbuat dari apakah hati kawanku ini? Bantuan yang kuberikan hanya 20 juta dianggapnya sangat besar sehingga ia mesti berkali-kali mengucapkan terima kasih. Dibandingkan penghasilanku yang sekarang yang telah mencapai milyaran rasanya 20 juta itu bukanlah sesuatu yang istimewa.
Apalagi jika dia menganggap bahwa bantuanku adalah sedekah yang tanpa pamrih. Dalam kamusku sekarang mana ada perbuatan yang tanpa imbalan. Apa dia tak merasa telah kubodohi? Bukankah dengan mencantumkan logo jamu produksi perusahaanku serta mencantumkan nama perusahaan di papan nama TPQ yang dikelolanya. Itu merupakan bantuan yang punya tendensi keuntungan. Rasanya kalau begini bantuanku itu lebih tidak bermakna lagi.
Aku iri padamu, Dron. Kau katakan istrimu adalah wanita perkasa yang memberikan support perjuangan. Jangan disamakan istrimu dengan istriku, Dron. Perumpamaan bagaikan bumi dan langit sangat cocok untuk menggambarkan mereka berdua. Tahu tidak, Dron, istriku adalah wanita royal, hobi shopping, penumpuk harta yang tak tertandingi. Tidak mau tahu bahwa suaminya telah mati-matian mencari uang tapi dengan seenak perutnya uang dihambur-hamburkan tanpa tujuan yang jelas.
Titipan salam yang kau bawa dari orang tuamu menyadarkanku ternyata uang bukanlah segalanya. Aku telah salah menilanya selama ini. Kukira dengan mencukupi kebutuhan mereka itu telah cukup untuk menunjukkan baktiku pada mereka. Ternyata kehadiran fisikku lebih mereka perlukan daripada sekedar hadirnya uang meski itu berlimpah dan berkelebihan. Dari suratmu, Dron, aku harus bertekad tahun ini aku akan merayakan hari raya bersama mereka.
Kamu juga mengagetkan kesadaranku. Hampir saja aku lupa bahwa masih ada rukun kelima yang belum aku penuhi selama ini. Penghasilanmu yang cuma sedikit tidak menyurutkanmu untuk bertekad naik haji. Dan kau berhasil. Sedangkan aku jangankan mendaftar berpikir sedetikpun tak pernah melintas di otakku. Betapa berdosanya aku.
Jika kau ingin aku selalu mengingat kejadian-kejadian selama aku menjadi guru. Nggak usah kau minta hampir setiap malam itu selalu membayangiku. Kadang hati ini ragu apakah sudah benar jalan yang telah kutempuh selama ini. Tapi rasanya aku juga berat Dron untuk meninggalkan apa yang telah kuraih selama lima tahun ini. Jalan satu-satunya aku harus merubah semuanya. Aku harus lebih memperhatikan agamaku. Dengan harta yang telah kumiliki sekarang akan kubantu kamu semampu aku sehingga kau tidak akan lagi terseok-seok menegakkan Islam di tengah carut-marutnya dunia.

*)Staf Pengajar
di MTs. MA. Al-Musthofa
Canggu Jetis

 Dimuat di Radar Mojokerto
Minggu, 21 Agustus 2011
Sayang banyak editan yang membuat cerpen kurang greget

10 komentar:

  1. Nama: Mirna Afinia Khikmah
    Kelas: XIc

    Menurut saya, isi cerpen nya bagus,,
    Gru sya pintar sekali membuat cerpen sperti ini
    Hehehehe

    BalasHapus
  2. cerpenya bagus tapi lebih bayak lg bwat yangseperti ini hhhhhhhhhhhhhhhiiiiiiiiiiiiiii :

    nama : m.nur.ardhi.fihina
    clas : IX A
    NOabn: 27

    BalasHapus
  3. Nama : andi wijaya
    kelas : IXc

    cerpenya semakin lama semakin bagus chuieyyyyyy

    BalasHapus
  4. Mawardha Arbarahmi13 Desember 2011 19.41

    Salah satu rubrik yang saya sukai di majalah KAMUS adalah GURU OH GURU. Saya begitu suka dengan rubrik tersebut karena ketika saya selesai membaca buah karya Pak Haris, decak kagumpun tak henti saya rasakan. Saya selalu mendapat motivasi besar dari karya yang Pak Haris buat.
    Dari cerita diatas, saya termotivasi untuk bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Begitu banyak jasa dan kebaikan yang bisa dikenang. Kerendahan hati juga harus selalu ada. Walaupun sudah merasa berhasil, pasti masih ada kekurangan di diri masing-masing.
    Terima kasih Pak Haris, yang akan selalu jadi motivator saya :)

    nama: Mawardha Arbarahmi
    kelas: IXA

    BalasHapus
  5. ceritanya bagus dan menarik, tetapi kenapa nama yang digunakan selalu nma orang ndeso kenapa enggak namanya orang kota.

    rika w. amala 9c

    BalasHapus
  6. kenapa namanya sodron dan paijo, kenapa kok enggak pakek nama yang lainnya.

    isti nundio 9b

    BalasHapus
  7. pak cerpennya menarik hati saya pak ..... hahahaha :)

    nama : serly atmasari
    kelas : XI IPA

    BalasHapus
  8. .ceritanya sangat bagus tetapi konflikny kurang ,., nama: siti maya indah sari IXa

    BalasHapus
  9. ceritanya bagus tetapi penataan katanya kurang menarik bagi pembaca ...akan ku tunggu cerpen selanjutya yang lebih bagus lagi
    nama;khusnul khotimah
    kelas:XI IPA

    BalasHapus
  10. assalamualaikum,,,, cerpen yang bapak buwat sangat bagus dan enak untuk dibaca rasanya bikin saya terhibur dan saya merasa banyak inspirasi yang bisa dijadikan cerita lagi buwat anak al-musthofa

    FYDO VARSENA X1 ips

    BalasHapus